‘Kuliah’ Komunikasi dari Sekitarku
6 Februari 2010
Hari ini, Mama hendak mengambil set mangkok saji Oxone (yang terkenal mahal itu..) yang dititipkan di mbah Rin. Beliau bermaksud menyamarkan barang itu dengan membawa keranjang dan selimut, dan kamuflase itu ditambahi dengan argumen, “Bude Rin mau ikut ngelaundry selimut, makanya aku mau ngambil ke sana” kepada orang yang menanyakan tujuan ibuku. Hmm… aku capek protes dan males ikut-ikutan. Whatever…
KULIAH 1 : Tidak semua informasi dapat dilepaskan ke publik. Ada beberapa yang harus disensor dan dikamuflasekan. Terutama yang mampu memancing sentimen publik,seperti urusan uang, beli barang mahal, atau barang yang riskan menjadi perdebatan dan perebutan. Aku yang terkenal polos dan blak-blakan tentu saja susah menerima ini. Tetapi aku tahu, dunia ini sulit sekali menerima kepolosan secara utuh. Kayaknya aku harus mampu menemukan gimana caranya tetap jujur dan tidak berbohong tetapi dapat diterima secara umum. Susah lho! Soalnya, kalo kata dosen kuliah kulitku, “Karena wanita ingin di…BOHONGI” (hehe… apa hubungannya?). Meski kejam dan rada diskriminatif, tapi ini kenyataan real yang susah dirubah.
Kisah berlanjut. Kemudian, kami ke rumah mbah Rin. Di sana, emang dasar Mama seneng ngobrol, cerita panjang lebar tentang goss Ahmad Dhani-Maia yang sangat beliau gemari itu. Sialnya, aku keceplosan tentang tema hot yang ada di lingkungan keluarga itu. “Dhani itu lho mensyaratkan harus mau dimadu tiga…” Mbah Rin sesaat (terlihat?) seperti tersengat, dan mas Lambang memberikan reaksi tidak nyaman. Well, terjerumus I, batinku.
Aku berkata begitu bukan tanpa pemanasan. Sebelumnya, ketika mendengarkan radio via HP, aku mendengar lagu Dhani yang berjudul ‘Aku Rela’, “Aku rela… oh, aku rela. Bila aku harus menjadi, selir hatimu untuk selamanya. Oh, aku rela… ku rela…”. Mau nggak mau, aku tak sengaja (bener-bener diluar sadar!) mendendangkan reff-nya sejak awal kedatangan kami tanpa memandang situasinya. Dan beberapa hari sebelumnya, aku membaca cerpen parodi yang mengejek Dhani yang mau menerima penyanyi hanya apabila siap dimadu 3, kayak judul salah satu lagunya. Jadi bukan salah kalau dari paduan informasi itu, yang tercetus adalah statement ‘bahaya’ tadi.
KULIAH 2 : Hati-hati dengan tema sensitif yang mampu memicu gesekan di sekitar. Untuk bercanda ria, tahan diri untuk tidak menggunakan tema yang kemungkinan besar bakalan pedas, seperti politik, ekonomi, keuangan, nyinggung masalah pribadi, dsb. Inget, dulu kamu juga pernah terjerumus ngomongin tentang ‘uang’ dengan Pakde Yono (remember?). Apalagi karakter tanpa tedheng aling-aling sepertimu, tahan diri sekuatnya untuk tidak mencetuskan semua yang ada di dalam hati. Pikir dulu, setidaknya sekali, efek apabila kalimat itu dilontarkan. Setidaknya, kita bisa menilai dan memperkirakan secara cepat bagaimana akibat dari suatu perkataan.
Kemudian, kami ke ruang tamu sambil mendengarkan mbak Desi cerita tentang riasan wisudanya yang sangat memuaskan dan mampu membuatnya manglingi alias nggak dikenali lagi. Emang, beliau mendadak jadi sangat nyinden, padahal selama ini lumayan tomboy, kan? Dari sana mengalirlah cerita tentang pertemuannya dengan seorang fotografer pemotret riasan foto ijazah yang ternyata murid kakeknya. Yang menarik, beliau menceritakan caranya menyelidiki latar belakang pria eksentrik tersebut. Mba Desi mulanya menanyakan kepada sang perias yang merupakan istri si fotografer, bagaimana caranya menjaga rambut yang terlalu sering disanggul agar tidak rontok. Si perias terpancing, dan menanyakan kenapa kok sering disanggul? Mba Desi berkata, ibu saya seorang waranggono (pesinden), dan terkadang menerima order nyinden. Lho, siapa nama ibu sampean? tanya sang perias. Wahyuning, kata mba Desi (Mbah Wahyuning ini madunya mbah Rin, sedangkan mbak Desi dan mas Lambang diasuh oleh mbah Rin). Rumahnya dimana? tanya sang perias lagi. Di …. (menyebutkan kota, sensored). Lho? Wahyuning yang itu tah? Ealaah, yo dulur dewe iku (saudara sendiri itu), kata si ibu perias. Dan diperkenalkanlah dengan suaminya, sang fotografer gondrong yang ternyata murid mbah-nya mba Desi (ayahnya mbah Wahyuning, yang seorang guru seni). Sebuah silaturahmi barupun terjadi.
KULIAH 3 : Komunikasi adalah teknik untuk menggali, mempersuasi, mengganti opini dengan cara yang sebisa mungkin tidak disadari komunikan. Semakin ahli seorang komunikator, semakin nyaman komunikan berbicara dengannya, dan tujuan komunikator dapat dicapai dari itu. Aku sih tidak sepakat dengan cara memanjakan komunikan dengan white lie yang seringkali dihalalkan secara berlebihan oleh para komunikator. Akan tetapi, masih banyak metode tidak langsung yang mampu ‘menampar’ sasaran tanpa konfrontasi langsung. Yang dilakukan mba Desi ini sungguh unik bagiku. Karena, apabila aku ditempatkan dalam keadaan yang sama, mungkin aku akan blak-blakan bertanya, yang malah mengundang kekagetan, kecurigaan, pertanyaan, atau malah perasaan diselidiki karena gayaku yang lumayan interogatif. Sering pula aku mengalami hal itu. Hendak menanyakan sesuatu, tetapi malah memancing tatapan aneh, lalu reaksi yang tidak sesuai harapan.
Hmm… Rupanya keluarga mbah Rin, mulai dari mbak Ira, Mas Sastro, Mas Lambang, dan mba Desi, semuanya punya kekuatan komunikasi dengan ciri yang berbeda. Kalo mba Ira, beliau dapat diandalkan dalam ilmu glamoritas. Banyak banget pengetahuan ala borjuis dari beliau. Kalau pingin belajar menjadi orang kaya baru, tanya saja klan keluarga mba Ira dan suaminya. Kalau mas Sastro, aku tidak terlalu akrab, tapi kecenderungan beliau ke arah militer yang mungkin menarik bagiku. kalau mas Lambang, adalah murid langsung mas Udin, seorang putra teater xxx yang terkenal dengan kelicinannya itu. Dan omku itu juga seorang komunikator ulung (secara, kuliahnya aja FISIP Komunikasi). Diluar bidang studinya itu, karakter beliau yang perasa mendukung kemampuan itu menjadi seorang yang pandai sekali mengelus ego seseorang. Beliau juga sangat pandai menggali informasi, mempersuasi, membelokkan ide, dan mungkin menanamkan ideologi pada seseorang. Pokoknya, power komunikasi orang satu ini sangat kuat, deh. Bagi banyak orang, beliau sangat menyenangkan. Sedangkan mba Desi, kemampuan komunikasi beliau adalah sangat pandai bercerita. Seringkali aku tersihir oleh ceritanya, dan itu sudah sejak ia kecil. Well, mari belajar komunikasi dari keluarga mbah Rin.