(Written for 31 Mei 2009)
Hari ini aku membongkar lemari pakaian besar yang ada di tepian tangga lantai 2 rumahku. Habis pusing sih, baju-baju pating slengkrah, nggak tertata rapi. Dan dalam acara membongkar itu, aku menemukan sesuatu di belakang tumpukan baju : sebuah kotak karton sepatu panjang berwarna ungu. Pada awalnya, aku hanya menduga kalau itu salah satu koleksi sepatu ibuku. Tetapi ketika kubuka, aku temukan sebuah benda yang sangat berharga bagiku : Boneka Teddy. Apa istimewanya? Bukankah aku tidak terlalu suka boneka?
Boneka putih empuk ini adalah pemberian adik-adik binaanku di SMA 1 Batu ketika aku berulang tahun, yaitu pada tanggal …-…-19… (rahasia, wekks..). Bonekanya lucu banget. Bulunya panjang-panjang, berwarna putih, empuk, kupingnya oranye dan memakai jaket kuning. Belakangan ini baru aku menyadari kalau si boneka mengalami perpaduan luka lacerasi dan avulsi di tengkuknya. Duh, kasihan… Mendadak, menjelmalah aku menjadi dr. Tsurayya, Sp.B (spesialis bedah umum), yang menjahit ‘luka’ si Bon-bon. Supaya bekas jahitan nggak kelihatan, kebetulan benang yang kupakai adalah benang hitam, (Yaah, nggak modal banget si. Maklum pembaca, nyari benang putih yang sesuei dengan kulit si Bon pas susyahh…), maka aku pakai teknik penjahitan subcuticular bersambung aja (lihat gambar). Dan, TARRAAA… benang itemnya enggak kelihatan!! Waw, senangnya kayak pas TeKa dulu, main doktel-doktelan…
Anita, Nida, Angel dan Mieke. Merekalah adik-adik binaan yang memberikanku boneka itu. Saat itu, aku tidak menyangka sama sekali kalau aku akan diberi kado semanis ini. Dan aku juga nggak nyangka kalau mereka mengingat ulang tahunku. Adik-adikku sayang, I Miss You!!! Hal ini sungguh penting bagiku. Adanya pemberian dari mad’u kepada murabbi berarti telah ada tanda keterikatan hati antara mereka. Padahal, keterikatan hati akan lebih memudahkan mad’u untuk menyerap materi-materi yang disampaikan, dan meneladani akhlaq yang ditunjukkan oleh sang murabbi. Aku sungguh menyesal, karena pada saat itu aku tidak terlalu sempat untuk memelihara mereka sampai ‘dewasa’. Aku selalu sedih kalau teringat mereka. Mereka dianugerahkan Allah pada masa awalku membina. Dan setelah sekian lama, aku merasa masih belum ada mad’u yang sesabar dan semanis mereka. Hehe… waktu itu murabbinya agak bandel sih… ^_T
Sampai sekarang, si Bon-bon inilah yang menyemangatiku jika aku sedang teler di medan dakwah sekolah. Dia yang membantu memberanikanku aku ketika jalan ini rasanya berat ditempuh. Dia mengingatkanku pada adik-adik yang memberikannya, agar aku tidak menyerah dan tidak sampai menyesal. Karena, seringkali orang yang tidak kita duga-duga malah memiliki potensi kehanifan terpendam yang jauh lebih besar. Dan harusnya aku nggak boleh melewatkannya. Karena sesungguhnya, dakwah sekolah adalah ladang yang sangat subur untuk menebar bibit kebaikan. Kepolosan, ketsiqohan, kecerdasan dan fitrah suci siswa-siswa itu membuatnya lebih mudah untuk diarahkan.
Dan seringkali, hasil didikan aktivis dakwah sekolah yang meskipun kelihatannya mbleler pas SMA (kajian bolong2, mentoring jarang masuk, pakaian belum nyar’i blass, pacaran), eh ternyata di kampusnya nanti terekrut menjadi aktivis dakwah kampus yang militan. Who knows? Sepertinya dakwah sekolah yang telah menempa fitrahnya sehingga lebih mudah menerima perjuangan dakwah di kampusnya. Dan ketika Aya sendiri menemui yang peristiwa ini, waduh tak terlukiskan betapa senangnya… Yakinlah kawan, perjuangan ini nggak akan pernah sia-sia. Karenanya, untuk seluruh penggerak dakwah sekolah di seluruh Indonesia :
KEEP FIGHTING!!
DON’T WORRY, OUR HARDWORK WOULD NEVER BE MEANINGLESS! COME ON AND JOIN TO,
‘SAVE OUR STUDENT’ CAMPAIGN!!