MENGUNTAI ASA, MEMINANG CITA

(Memoar tentang Muhammadiyah 08 Batu, SMP-ku)

Jika aku ditanya, sejak kapankah aku menyadari sejauh mana berharganya diriku, sejak kapan talenta-talentaku terbuka, sejak kapan aku mengalami pengalaman-pengalaman seru dan tak terlupakan, itu sejak aku menjadi bagian darimu.

SMP Muhammadiyah 08 Batu… Sejak aku bersamamu, aku mengenal puisi yang nanti akan mengantarkanku kepada dunia teater di SMA. Aku mengenal public speaking yang nanti akan sangat membantuku dalam tugas presentasi dan argumentasi. Aku merasakan menjadi sosok popular yang mengajariku mengembangkan bagaimana sikap low profile. Menjadi mayoret, danton, juara paralel, juara lomba puisi, dll. Menjadi warga eksklusif tanpa kehilangan moment pergaulan grass root. Nge-gank dengan bermacam petualangannya. Menikmati rona-rona remaja,dan… merasakan cinta pertama.

Kelas 1…
Aku masuk SMP dengan prestasi akademis SD yang ‘memukau’. Otomatis, aku masuk kelas C yang telah sejak awal dipersiapkan untuk siswa-siswa pilihan yang masuk SMP ini. Di kelas ‘istimewa’ ini, aku bertemu dengan 14 orang siswa berdanem paling tinggi yang lain. Ulul, Yuni, Rafida, Piping, Iwan, Udin, Dwi, Toni, Zakiya (hanya sempat bersekolah sebentar, lalu wafat karena penyakit jantung yang dideritanya), Rangga, Yeni, Fandi, Dian, … (satu orang lagi aku lupa), dan aku sendiri .

Fasilitasnya, kami gratis gak usah mbayar untuk SPP perbulannya. Hehe… lumayan. Perjanjiannya, yang menjadi warga kelas ini adalah siswa yang dapat mempertahankan prestasinya dalam kancah 15 besar parallel angkatan. Barangsiapa yang lalai dan mengalami kemerosotan prestasi, maka takkan segan-segan untuk dipindahkan, seperti yang dialami Toni, yang terlempar ke kelas A. Berikut diganti-gantikan oleh Ratna, Khafi, Lilis, Yayan, dan mungkin ada yang lain, meski aku lupa. Anggota yang relatif tetap dalam kelas ini antara lain aku (ciee, gak narsis ni..), Ulul, Yeni, Piping, Iwan, Udin, Rangga, Fandi. Sedangkan Yuni, Dian, Rafida, seingatku mereka sempat terlempar ke kelas lain.

Aku juga ikut drum band. Dan nggak tau gimana ceritanya, aku diamanahi untuk menjadi mayoret bendera. Hehe… padahal nggak tau apa-apa. Jadilah aku pakai baju seperti Cleopatra, mimpin muter-muter bendera warna-warni gitu. Kami diundang main di mana-mana. Kadang di tempat yang jauuuuhh, atau sangat keriiing, atau sangat berangiin, atau sangat basah. Hehe… lebay ya? Tetapi, drum band ini memperindah kenangan masa mudaku. Dari sinilah aku mengenal teman-teman dari luar kelasku.

Kemudian aku bertemu dengan sahabatku Septita. Gimana awal ceritanya, ya? Lupa. Yang jelas,setelah aku bersahabat dengan Tita, akupun masuk ke gank-nya, Nurdin cs, yang dipimpin oleh Nurdin yang pintar dan populer. Bersama gank ini aku mengalami banyak kejadian yang seru, menyenangkan sekaligus memalukan. Salah satunya adalah pas mau ke rumah Nurdin di hari raya, aku malah kecebur selokan, dan terpaksa pinjem baju punya Nurdin. Hiks, muaaalu…

Di SMP Muhammadiyah ini, alam adalah sahabat utama. Mungkin karena sekolahnya yang ‘mewah’ alias mepet sawah kali ya? Hijaunya belakang sekolah selalu menyejukkan mataku, dan memberi kontribusi memori indah yang cukup banyak juga. Belajar di alam menjadi saat favoritku, dan metode favorit pak Choliq. Ekstra KIR (Karya Ilmiah Remaja) yang dibina beliau sering membawaku ke hijaunya rumput Torong, atau hijaunya lumut yang nempel di candi Jago (eh, bener tah namanya? Yang letaknya di Malang?).

Guru yang satu ini memang paling suka OUT OF BOUNDARIES kalo ngajar. Adaa, aja idenya. Tapi itu yang membuat aku selalu merasa semangat belajar dengan metode beliau. Kadang nonton VCD, naik gunung, jalan ke mana, atau mungkin di kelas saja tetapi dengan metodologi dan pendekatan yang berbeda. Seru lah pokoknya… Beliau juga yang mengenalkanku dengan Harun Yahya, peneliti muslim yang sangat padat karya. Beliau mengajarkan, kita harus menjadi seorang muslim yang kontributif. Mampu memberikan sumbangsih atau perubahan. Dan sampai sekarang, aku sungguh meyakini ini.

Pada tingkat ini, pergaulanku masih sebatas teman-teman kelas C dan Septita-Nurdin cs. Masih belum expand ke grass root, lah. Tetapi meskipun begitu, di level inipun aku sudah mendapat banyak pelajaran. Tentang asertivitas, yakni berani mempertahankan diri dari penindasan (thaks to Yuni Erdiati, my friend). Tentang ketegaran mempertahankan prinsip, meskipun harus sendirian (thanks to all my classmate who taught me this). Tentang kecintaan pada ilmu pengetahuan (thanks to Pak Zulkifli Hasan ^_^) yang mengizinkanku mengeksplorasi bengkel ilmiah beliau, dan ternyata secara tidak langsung telah mengantarkanku sampai seperti sekarang. Tentang mengembangkan potensi dan membangun cita-cita (thanks to pak Samsudi). Tentang belajar untuk berbesar hati dan bersikap ulet (thanks to pak Teguh Wijayanto). Tentang menjadi sosok muslim yang mampu menciptakan perubahan (thanks to pak Choliq). Semua ini ternyata sangat berguna nantinya, di tingkat usiaku selanjutnya.

Oh iya, hampir lupa. Special thanks pada seorang ‘nenek’, yang awalnya kami kira judes (kesan pertama : galak buanget! Aku pernah dibuat nangis di pertemuan pertama pelajaran beliau, dan gara-gara itu untuk 1 semester aku kapokk dah dengan Bahasa Inggris), tetapi ternyata ia adalah nenek baik hati yang selama 3 tahun selalu melimpahi kami dengan kasih sayang. Beliaulah yeng membuatku merasa akrab dengan bahasa Inggris, serasa seperti kawan lama. Mrs. Soeniati, saya kenang anda dengan cinta…

Kelas 2…
Atas kebaikan sekolah ini, aku dan Ulul diberi kesempatan untuk studi banding ke Jogja, tepatnya di SMP Muhammadiyah 3 Jogjakarta. Wah, banyak sekali yang bisa dikenang dari negeri Gudeg ini. Mungkin ia akan memakan halaman tersendiri.

Aku berangkat bersama Ulul, dang tinggal sekost dengan dia selama 2 bulan. Kami mengalami banyak hal. Mulai dari berbagi bersama, belajar bersama, kerja bersama, sampai bertengkar satu sama lain, lalu menemukan penyelesaiannya. Dari sana, kami belajar tentang kedewasaan dan lobbying dalam menyelesaikan konflik. Meskipun hubungan kami saat itu berasa Nano-nano, nantinya ketika kami bertemu kembali segala kenangan itu terasa sangat indah. Aku belajar banyak tentang kedewasaan dan kemandirian darinya. Thanks a lot, my friend.

Di tingkat ini pula, aku menambah orang di ruang hatiku dengan kehadiran Lilis. Ia sahabatku yang berasal dari kelas yang berbeda. Kelas A. Awal pertemuan kami masih kuingat. Kami saling mengenal karena kami sama-sama mayoret bendera. Tapi ya nggak akrab gitu, biasa aja. Sampai suatu hari, Lilis ke rumahku dan kami mengobrol sedikit. Tapi entah mengapa, ada suatu ‘chemistry’ yang membuat aku menjadi merasa dengat dengannya. Jadilah kami sahabat yang runcang-runcung bersama. Kami berangkat latihan drum band bersama, jagongan bersama, berbagi cerita, banyaklah.

Kemudian, karena prestasinya yang meningkat, di kelas 2 ini Lilis dimutasi ke kelas C. maka makin akrablah kami. Aku sangat menyayangi dia. Di kelas, kami memiliiki perjanjian. Aku tidak akan pernah menconteki dia dalam keadaan apapun, karena bagiku hal itu hanyalah menjerumuskan dia saja. Aku ingin dia bertahan di kelas C dengan usahanya, dan ia mengerti itu. Ini membuatku semakin sayang padanya.

Persahabatanku dengan Lilis membuatku mengembangkan pergaulan ke kelas lain. Aku jadi punya banyak teman dari kelas A dan B, serta ikut seru-seruan dengan mereka. Margiana, Fauziah, Betty, Hawa (Salwa), si kembar Riska-Riski, Ayu, Erryx, Ferrial, Arip, Agus, Aris, Heri, …, wah siapa lagi ya? Banyak banget… Aku belajar untuk menghargai perbedaan dan menghargai orang lain bersama mereka. Mereka sering bilang minder jika di dekatku, dan karena itulah aku belajar untuk mengecilkan kesenjangan.

Entah mengapa, aku terpilih lagi menjadi satu di antara tiga mayoret depan di kelas 2 ini. Konsekuensinya, aku harus menyamakan langkah dengan mbak Amalia dan mbak Prasasti yang 1 tahun lebih tua dariku. Ini menjadi masalah tersendiri. Kebanyakan anggotaku adalah anak kelas 3. Padahal di usia SMP, selisih 1 tahun saja sudah terasa sangat jauuuhh…jaraknya. Tetapi, great thanks to Allah yang memberikan aku kesempatan seperti ini. Meskipun tadinya kujalani dengan agak minder, aku harus segera belajar menjadi seorang pemimpin untuk kalangan di atasku.

Kadangkala, aku mengalami kendala. Ada beberapa anak yang kurang suka dengan pengangkatanku yang masih ingusan ini. Dan dalam mengekspresikannya, mereka melakukan ‘pembangkangan’ terhadapku. Contohnya, ada yang dengan sengaja tidak mau menghadapku ketika musik dimainkan. Padahal, aku saat itu berdiri tepat di depannya. Saat itu, rasanya terhina banget. Tetapi aku tahu, inilah saatnya menunjukkan bagaimana seharusnya mereka bersikap.
“Mbak X, tolong hadap ke saya!” kukatakan itu dengan tegas tetapi lembut, dan kuulangi 2 kali dengan sabar tanpa emosi. Pendekatan ketegasan yang diikuti dengan kelembutan ternyata efektif! Aku mampu menyampaikan aspirasiku, tetapi tidak menyakiti dan menciptakan dendam. Dan Mbak X yang tadinya sadis dan intimidatif padaku, berangsur berubah lebih lunak serta ia harus pikir-pikir panjang dulu kalau mau menjegalku.

Kelas 3…
Di tingkat ini, aku mulai belajar dengan serius untuk menyambut ujian. Rasanya saat itu beban akademisku terasa lebih berat karena aku harus bersaing untuk sederajat dengan siswa-siswa SMP negeri. Kadangkala, aku merasa minder jika aku pulang semikrolet dengan mereka. Tetapi selalu kuhibur diriku sendiri, jika aku sekolah di tempat lain aku tidak akan mendapat kenangan seindah ini. Dan ternyata hal itu memang benar adanya.

Hobiku pada waktu itu adalah nongkrongin ruang tamu kepala sekolah yang saat itu masih dijabat oleh pak Teguh Wijayanto. Aku bisa pulang jam 5 sore kalau sudah terlanjur terbuai di sana. Kenapa? Karena di sana ada rak yang berisi begitu banyak buku-buku terjemahan luar negeri yang membahas berbagai bidang ilmu. Mulai dari sains, teknologi, geografi, sejarah dunia, kedokteran, psikologi-psikososial, kebudayaan, sosial, politik, kriminologi, dan bidang-bidang lain yang bagiku sangat menarik, meski kadang bahasanya membuat aku bingung.

Sungguh, momen di tempat ini sangat membangun diriku. Dari sinilah aku tertarik untuk mengembangkan pengetahuan seluas mungkin, dan tertarik dengan berbagai bidang ilmu. Aku jadi semakin suka membaca, apapun itu.

Dan di tempat ini pula aku sering mengobrol dengan para guru. Pak Teguh, pak Sam, pak Choliq, pak Zul,pak Ajis,pak Edy, pak Amin. Mendiskusikan tidak hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga pelajaran hidup. Aku belajar berbagai wisdom (kebijaksanaan/pelajaran) yang telah mereka uji dalam hidup mereka. Banyak diantaranya yang sudah aku lupa, tetapi mungkin tanpa sadar telah aku jalankan. Dan di sini pulalah momen itu terjadi dengan guruku, Pak Sam,
“Nanti setelah lulus SMP, kamu mau ke mana Mer?”
“InsyaAllah kalo lolos, ke SMA negeri 1 Pak”
“Ooo…”
“Pak, kalo saya punya kesempatan, saya ingin kuliah di FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA, Pak. Saya ingin menjadi dokter”
Aku lupa pak Sam kemudian menjawab apa.

Saat itu, aku tidak benar-benar serius mengatakan kalimat itu. Karena situasi akademis dan ekonomi yang tidak menonjol membuatku menganggap, hal itu akan lumayan lucu jika dijadikan banyolan. Tetapi malamnya, aku menimbang kalimatku dan akhirnya aku bertekad bahwa itu bukanlah sekedar kata belaka. Jika memang Allah memberikan kesempatan, aku akan memperjuangkannya. Ia telah menjadi targetku. Dan dihadapan pak Sam, aku mengazzamkan cita ini. Azzam yang ternyata, membawaku semakin dekat dan dekat dengan cita-citaku.

Aku lolos masuk SMA Negeri 1 Batu. Lalu di sana aku berkesempatan menjajal medan Olimpiade biologi, yang meskipun tidak lolos di tingkat provinsi, tetapi membantu memantapkanku dalam wawasan hayati. Kemudian aku mendapatkan nilai UAN yang cukup menyenangkan. Dan ketika SPMB, aku tidak ragu lagi akan memilih apa. Hingga sampailah aku di sini sekarang. Ruang kuliah Prodi Pendidikan Dokter Fak. Kedokteran Univ. Brawijaya. Hal yang saat SMP dulu nyaris mustahil dicapai seorang anak sekolah pinggir sawah, tetapi sejatinya bukan musykil. Inilah yang membuatku meyakini akan pentingnya membuat dan mendeklarasikan cita-cita, menatanya menjadi target, bersabar menyelesaikannya satu persatu lalu akhirnya menggapai sang impian.

Ternyata lagi-lagi di ruang ini, aku dipinjami oleh pak Amin sebuah buku bersampul unik (gambarnya seperti kain celana jeans), The Seven Habits of Highly Effective Teens, ditulis oleh Sean Covey. Beliau memang meminjamiku beberapa buku lain, tetapi buku inilah yang paling berkesan. Tentang bagaimana seharusnya seorang remaja lakukan untuk menjadi efektif dan sukses, buku ini ditulis dengan apik dan luwes bahasanya. Sungguh, The Seven Habits telah merevolusi diriku. Buku inilah awal dari buku-buku pengembangan kepribadian lain, yang nantinya mewarnai karakterku. Terima kasih pak Amin. Meski aku tidak pernah menjadi muridnya (karena beliau mengajar di SD Muh), apa yang beliau perbuat terhadap hidupku sudah cukup untuk menempatkan beliau sejajar dengan para guru. Dan di ruang tamu kepala sekolah tersebut, aku membuktikan sendiri pernyataan ini :

You are the same today that you are going to be five years from now except for two things :
The people with whom you associate and the books you read.
Anda akan tetap sama seperti pada hari ini pada kelima tahun ke depan, kecuali untuk dua hal :
Dengan siapa anda bergaul dan buku-buku yang anda baca.

(Charles Jones)

Special Thanks for all of contribution :
Pak Teguh Wijayanto, Pak Al Ajis Arifin, Pak Abdul Choliq, Pak Samsudi, Pak Edi Susanto, Pak Teguh Riyanto, Bu Soeniati, Bu Sri Retnoningtyas, Bu Latifah, Bu Ida Misaroh, Bu Eka, Bu Jamilah, Pak Nanang Komar, Bu Titik, Pak Prayit, Mas Budi, Mba Icha, Mas Basroni, para pelatih Drum Band, Tapak Suci, Karya Ilmiah Remaja, Training Outbond, dan masih banyak lagi orang yang tak mampu aku sebut dan kontribusi yang tak dapat aku tuturkan. Kalaupun mampu, jangan-jangan memoar ini akan menyamai tebal Tetralogi Laskar Pelangi(^_^). Sekali lagi, terima kasih, jazakumuLlahi khair…

Tatsqif Ust. Unggul Wibawa, Kepala DORA PKS Pusat

Masih seputar pertemuan kader DORA Se-Jawa Timur yang dilaksanakan di kantor DPW PKS Jatim pada tanggal 22 Februari lalu. Kali ini akan kami laporkan hasil tatsqif yang disampaikan oleh Ustadz Unggul Wibawa, pimpinan Deputy Olahraga (DORA) DPP PKS yang datang dari Jakarta sono. Ustadz yang katanya juga seorang pengusaha ini menyatakan kecintaannya yang amat mendalam pada olah raga. Saking cintanya, beliau bercerita bahwa beliau menyempatkan membawa sepatu olahraga untuk lari, sambil menunggu anaknya sekolah. Ketika ditanya, beliau mengatakan bahwa dalam rentang waktu menanti itu beliau berhasil lari 30 menit dan jalan 40 menit. Subhanallah…! Sempet aja nih Bapaknya.

Dalam tatsqif itu Pak Unggul menyatakan bahwa visi DORA adalah menyebarkan ide hidup sehat di kalangan kader dan konstituen. Kenapa sih kita musti hidup sehat? Bukankah bagi seorang da’i, yang terpenting adalah tsaqafah Islamiyah yang mendalam dan komprehensif? Apa pentingnya, lha wong lagunya WR Supratman aja :”Bangunlah jiwanya, (baru) bangunlah raganya…” Berarti raga mah entar-entar dulu dongs?

Weittt… tunggu dulu Ikhwatifillah rahimakumuLlah. Mari kita berkelana sebentar dalam dunia sibuk para eksekutif/pebisnis kelas kakap. Dalam jadwal harian mereka yang berangkat kerja jam 6 pulang jam 5 itu, mereka sempatkan untuk nge-gym/fitness dulu sejak jam 5. Lho, buat apa, wong capek-capek habis kerja kok malah ngongsor-ngongsor (ini bahasa kedokteran ndeso untuk terengah-engah) berolahraga?

Rupanya, para eksekutif itu sangat sadar akan peran tubuh mereka terhadap produktivitas kerja. Kebugaran badan mereka berharga, karena ini adalah investasi yang sangat mahal!! Mereka dapat menghitung berapa juta sampai milyar rupiah melayang, proyek tender yang lepas, keputusan penting yang missed jika sehari saja mereka sakit. So, daripada kehilangan sekian banyak, lebih baik sengsara dikit.

Coba pikir. Mereka saja begitu concern terhadap kesehatan tubuhnya, padahal tujuan utama mereka adalah DUNIAWI. Lalu bagaimana seharusnya yang kita lakukan, padahal yang menjadi tujuan kita adalah DUNIAWI dan UKHRAWI. Jadi, sebenarnya kita jauh lebih membutuhkan kebugaran daripada para bussinessman itu. Tanpa fisik yang tegar, panggilan jihad dan dakwah akan disambut sambil terseok-seok. Kita akan melewatkan begitu banyak peluang ridho Allah dan pahala akhirat, yang secara gitu loh jauh lebih berharga daripada sekedar uang berjuta-juta di dunia. So, pilih mana?

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi ke-DORA-an, seperti visi Departemen, bagaimana mengelola Departemen agar melejit, dan pentingnya inovasi dalam mengelola Departemen.

Visi DORA tentu saja tak lain dari “Menyebarkan gagasan hidup sehat di kalangan kader dan konstituen”. Dalam hal mengelola departemennya, beliau mengibaratkan dengan mengelola bisnis. Di sana ada UNTUNG, tetapi ada juga RUGI. Ada KAWAN, namun awas ada LAWAN. Karenanya, kerapian manajemen mutlak diperlukan. Bangun etos kerja yang sekreatif dan inovatif mungkin. Beliau mengatakan, “Senam PKS Nusantara itu bukan Al-Qur’an, bukan Al-Hadits. Jadi, kreasikan sesuka hati Anda!!”

Selain materi ke-DORA-an, beliau juga menyampaikan motivasi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran diri. Mulai dari definisi kebugaran, ‘ijtihad’ hukum berolahraga, pengaruh lingkungan terhadap kebugaran, unsur kebugaran, bagaimana life style yang OK, dan ‘manhaj’ olahraga dalam jamaah. Wah, kayaknya seru nih.

Yang pertama, definisi kebugaran menurut beliau adalah ketika seseorang memiliki kegiatan yang banyak, tetapi tidak mudah lelah. Itulah bugar. Saya sendiri pernah membaca suatu artikel majalah wanita yang mengistilahkan definisi ini dengan kata STAMINAC. Kalo kata iklan, “Stamina lagi, dan lagi”. Mencapainya? Tentu saja dengan olahraga. Meskipun bagi orang yang sibuk, ia dapat menyempatkan olahraga sederhana semisal lari di antara sela waktunya.

Kata beliau juga, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebugaran. Keturunan, gender, dll memberi sumbangsih masing-masing sedikit, tetapi yang terbanyak, yaitu sebanyak 57% adalah faktor Lingkungan atau orang-orang di sekitar kita. Artinya? AWAS, JANGAN DEKAT-DEKAT SAMA ORANG YANG TIDAK BUGAR. NULAR!!! Hehe, itu saya kutip bulat-bulat dari kata Ustadz Unggul, dan saat itu kamipun gerr bersama. Menurut beliau, mestinya kitalah yang menjadi sumber kekuatan orang-orang di sekitar kita. Kitalah yang energizing people. Dengan begitu, ketika kita sendiri kehabisan energi, orang-orang sekitar kita akan mengembalikannya pada kita.

Dalam taujihnya, beliau menyebutkan unsur-unsur kebugaran yang meliputi : 1. Ketahanan jantung dan pembuluh darah, 2. Kekuatan otot (Strength), 3. Ketahanan otot (endurance), 4. Kelenturan otot (flexibility). Dan untuk hidup sehat, lifestyle yang baik musti dilakukan, antara lain istirahat cukup (4-6 jam), makan yang cukup dan teratur, serta olah raga yang teratur.

Manhaj jamaah tentang olahraga dirangkum dalam akronim FIT (Frequency, Intensity, Time). Frekuensi yang ideal adalah 2 hari sekali, karena efek hormon Endorphin (hormon pemuncul kebahagiaan mirip morphin yang juga membeludak pada orang yang sedang kasmaran) yang bekerja pada tubuh yang berolahraga akan hilang setelah 2 hari. Tetapi berolahraga terlalu sering juga kurang menguntungkan bagi tubuh.

Intensitas ideal dalam berolahraga bukan ketika kita berkeringat sampai menetes-netes. Tetapi dapat dihitung dengan rumus berikut :

Denyut optimal = (220-usia)x70-85%.

Dengan rumus ini, didapatkan denyut optimal yang musti dicapai oleh sang olahragawan. Sehingga, otot-ototnya benar-benar terlatih, tidak sekedar bergerak dan berkeringat saja.

Untuk banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk berolah raga, yaitu mempertahankan denyut optimal tersebut selama minimal 30 menit. Olahraga macam apakah yang mempu memenuhi syarat di atas? banyak kok. Seperti lari adalah salah satu contoh olahraga yang mampu menguras tenaga, murah pulak.

Yang terakhir, beliau menceritakan ‘ijtihad’ beliau terhadap hukum berolahraga. Apa ijtihad MUI sehubungan dengan merokok? Merokok adalah kegiatan yang membuang uang dan menabung penyakit. Karena alasan itulah, rokok difatwakan HARAM. Sedangkan apa yang akan terjadi jika tubuh tidak berolah raga? Tubuh akan sama sakitnya, menderita, dan produktivitas hilang. Jadi hukumnya? HUAARRAM!!! Hehe… Anda percaya?

DORA, The Explorer!!!

Pada hari Ahad, tanggal 22 Februari 2009 kami diundang untuk menghadiri rapat DORA (Deputy Olahraga) DPW Partai Keadilan Sejahtera, yang bertempat di kantor DPW PKS Jatim, Jalan Kartini nomor 50 Surabaya. Pertemuan Deputy Olahraga seluruh DPD Se-Jawa Timur ini dihadiri sekitar 100 peserta Ikhwan dan akhwat. Dari DPD Kota Batu sendiri mengirimkan 2 delegasi akhwat, tanpa ikhwan.

Perjalanan kami menuju terminal Arjosari di pagi yang sejuk sempat terganggu dengan ban yang kempes mendadak. Takut juga, lha wong kempesnya ketika motor kami melaju dengan kecepatan tinggi. Waduhh, mbawa anak orang nih! Untunglah,kendaraan dapat dikendalikan sehingga menepi dalam suasana pagi yang sepi kendaraan. Tanya sana-sini, dimana ada tambal ban yang buka jam 6 pagi, ternyata ada juga. Dan alhamdulillah perjalanan kami dapat melaju lagi dengan tenang.

Sampai di Arjosari, kami disambut calo-calo bis yang menyambut kedatangan kami dengan ‘meriah’. Kamipun naik bis menuju Bungurasih. Sesampainya di sana, kami naik bis kota Surabaya jurusan Darmo. Sempat was-was lagi, berhubung kami tidak tahu mana yang namanya jalan Kartini itu. Tapi Alhamdulillah, di bis kami berjumpa dengan seorang ikhwan yang sama-sama bilang “Jalan Kartini” pada pak kondektur. Setelah turun, kamipun mengikuti dari jauh kemana beliau pergi (tanpa sepengetahuannya), hingga sampailah kami di kantor DPW yang ternyata letaknya agak masuk gitu ke jalan Kartini.

Sesampainya di sana, kami agak terlambat mengikuti seremonial pembukaan, dan kami sudah sampai pada materi dari Pak Syaiful, Kepala DORA DPW PKS Jatim (bener ya gelarnya?). Ternyata menurut beliau, PKS provinsi Jawa Barat dan Sumatera Utara yang telah berhasil memenangkan Pilkada lalu memiliki statistik jumlah instruktur senam PKS Nusantara yang sangat fantastis (ana lupa, 1000 atau bagaimana. Pokoknya sangak buanyak!!). Dan disinyalir, banyaknya instruktur yang bergerak mengumpulkan massa untuk senam sehat sambil berkampanye itu memberi andil yang signifikan terhadap pemenangan Pilkada di daerah-daerah tersebut. Halah, how come?

Bagaimana tidak? Senam adalah kegiatan yang bisa dilakukan secara murah, mudah, meriah, mengena dan semua suka. Ibu2, bapak2, mas2, embak2, anak2, bahkan aki2 nini2 kalo mau boleh ikut. Senam is Happy. Bagi mereka, ini adalah momen rame-rame ketemu teman dan sodara dalam suasana ceria. Nggak perlu modal, cukup semangat dan enggak malu aja. Apalagi, dengan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya kesehatan dan melawan penyakit aneh-aneh yang muncul di zaman ini, senam dapat menjadi alternatif menjaga kesehatan yang nyaman dan mudah diperoleh.

Sedangkan bagi kita para kader, senam ini sungguh membantu bendahara struktur. Hemat! Nggak usah bondo yang aneh-aneh, cukup VCD player, TV dan sound system (sama aneh-anehnya dong?). Dengan modal itu saja sudah mampu menarik massa dari berbagai kalangan. Dan pencitraan PKS yang Peduli Kesehatan itupun dapat tersampai dengan baik tanpa terlalu banyak koar-koar. Hare gene gak jaman omong doang!

Dengan kelebihan itulah, sudah selayaknya senam PKS Nusantara diperhatikan lagi perkembangannya. Mestinya, ia tidak lagi dipandang sekedar penghias mutaba’ah kader saja. Tetapi dapat dioptimalkan untuk membantu mem-futuh-kan masyarakat yang sebenarnya tengah memanggil-manggil kontribusi kita. Dengan memanfaatkan daya pikatnya, senam PKS Nusantara dapat menjadi pembuka lahan dakwah baru yang tadinya belum dapat tersentuh via pengajian atau halaqah. Sarana merangkul individu-individu yang baru denger kata “Ngaji” dan bacaan “Ya ayyuhalladziina aamanu…” aja udah ngibrit duluan, kata Ustadz Unggul Wibawa. Ia dapat membantu mengeksplor ruang jelajah medan ‘perang’ kader. Maka, pantes aja kalau kami gelari senam PKS Nusantara itu dengan :”DORA, The Eksplorer!”

Advokasi Pasien Abses Otak (Part 1)

Bapaknya ukhti Dwi masuk RSP, diduga mengalami stroke penyumbatan dan akan dirujuk ke RSSA untuk CT Scan. Antum agenda kosong? Kalau iya, dimohon menemani ukh Dwi untuk membantunya”

Begitulah kira-kira SMS temanku, yang mau tidak mau membuatku terkejut. Bapaknya Dwi? Kok kayaknya tadinya baik-baik saja? Tapi sudahlah. Segera kuselesaikan urusan presentasi Monev PKM-ku untuk untuk dapat segera menemui mereka di RSP.

Dwi adalah salah satu sahabatku. Kami dan beberapa teman lainnya menjalani peran sebagai aktivis dakwah sekolah. Karena seringnya kami bertemu, kami menjadi akrab. Kami sering bagi berbagai cerita tentang keluarga, cita-cita, kehidupan dan sampai cinta. Hehe…

Sesampainya di RSP sana, aku bertemu juga dengan Nana. Nasi kotak yang kubawa dari Monev tadi kami bancak bersama, sambil membicarakan tentang penyakit bapak Dwi. Sebenarnya ketika aku membaca SMS di atas, aku merasa ragu saja. Apa benar bapak Dwi butuh CT Scan? Apakah itu benar-benar diperlukan? Takutnya, CT Scan itu hanyalah upaya ‘bisnis’ antara dokter dengan bagian CT Scan-nya. Bukan berprasangka, tetapi dosenku dari bidang Radiologi sendiri yang bilang begitu. Kan jadi rada parno tuh…

“CT Scan? Kata dokter emangnya bapak sakit apa Ukh?”

“Denger-denger sih penyumbatan gitu katanya.”

“Emang harus disuruh CT ya?”

“Lha ya itu Ukh. Ana dan ibu kan ngga tau apa-apa to. Sedangkan antum kan jauh lebih tahu dari kami. Makanya, kami berharap agar setidaknya antum mendampingi kami, gitu lho.”
itu saja sudah cukup bagiku untuk menekadkan diri mengadvokasi keluarga sahabatku ini. Meskipun ilmuku sederhana dan pengalamanku seadanya, tetapi aku merasa harus mendampingi keluarga itu. Lagian, lumayan kan dapet ilmu gratisan. Kapan lagi bisa ikut memonitor kesehatan pasien dengan begini leluasa?

“Gejala bapak apa aja?”

“Sakit kepala berat dan tensinya 150/… (lupa).”

“Ada tanda kelemahan tubuh gitu ngga? Kayak jadi ngelimprek, gak bisa jalan, kesemutan, dll? Atau kesadaran yang menurun?”

“Nggak tuh…”

Ha? Cuman Hipertensi tanpa ada tanda defisit neurologis? Gitu doang mau di CT? Gak salah?

“Terus dikasi obat apa aja?”

“Sejenis captopril (penurun tekanan darah), ranitidin sama vitamin B complex.”

Ranitidin? Itu kan buat obat tukak lambung?

“Ukh, CT Scan tu termasuk ga murah lho. Dan setau ana, kalo cuman hipertensi gitu doang mah ga usah CT. kasi aja penurun tekanan darah. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Gimana kalau kita tanya aja ke mereka kenapa kok harus di CT Scan. Biar lebih jelas alasannya ”

“Tapi…”

“Halah, ga papa kok, tak temenin.”

**** Prinsip Etika Kedokteran Poin Pertama (RESPECT OF THE AUTONOMY, Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui serta memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya, sehingga perlu di berikan informasi yang cukup) dan Poin Kedua (PRINCIPLE OF VERACITY, Dokter hendaknya mengatakan secara jujur apa yang sebenarnya terjadi, apa yang akan dilakukan serta resiko yang dapat terjadi) ****

Jadilah aku mengantar Dwi ke ruang perawat, karena sore itu sang dokter spesialis sudah tidak di tempat. Berbasa-basi sedikit dengan mas-mas perawatnya, aku mendapat kesan kalau investigasi ini tidak akan sulit.

“Mas, saya kan keluarganya pak Darmanto. Beliau katanya dirujuk ke RSSA untuk di CT Scanya mas? Sakitnya apa to kok pake gituan?”

Aku berusaha sok bodo aja. Dan mereka menyinggung adanya dugaan tumor otak. HAH?!?!? Gak salah? Gak boleh sembarangan lo bilang suspect tumor otak. Ia harus memenuhi beberapa kriteria proses desak ruang, seperti sakit kepala berat, mual-muntah proyektil, papil edema, dan defisit neurologis fokal. Tapi Dwi ngga pernah mengeluhkan itu padaku.

“Memangnya, bapak Man kenapa pak kok bisa diduga begitu? Oh iya, boleh lihat statusnya mas?” Nekat aja. Ternyata dibolehin. Dan saat itu pula aku sadar, adanya hemiparesis kaki kiri, papil edema +1, sakit kepala yang sering dikeluhkan bapak, dan setelah kembali ke kamar bapak, aku mendengar bapak muntah. Aku jadi merinding sendiri.

“Ukh, sepertinya benar deh, bapak ada gejala tumor di otaknya”

“Hah??” Ukhti Dwi pucat pasi.

BERSAMBUNG…

SMS TAUJIH DAN MOTIVASI

  • “Barangsiapa berwudhu dan melakukannya dengan baik, maka kesalahan2nya akan keluar dari badannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR Muslim)
  • Ini adalah layanan Ukhuwah Call Me. Pelanggan dengan no ini meminta anda utk tersenyum ceria, mengisi hari dengan penuh semangat, keikhlasan dan keistiqomahan di jlnNya…
  • Jika seluruh umur adalah DOSA, maka TAUBATlah obatnya. Jika seluruh bulan adalah NODA, maka RAMADHANlah pemutihnya. Menjelang datangnya Ramadhan yang penuh rahmat dan maghfirah ini, dengan kerendahan hati memohon maaf lahir dan batin
  • Manakala hati dibersihkan dari sifat tercela dan dihiasi dengan taqwa pada Allah, lalu diisi dengan dzikir, maka tidak ada lagi ruang bagi syaithan untuk menguasai hati manusia.
  • Saat orang-orang bekerja memenuhi kebutuhan dirinya, seorang PEJUANG berpeluh keringat memenuhi kebutuhan orang lain. Saat orang-orang beristirahat, seorang PEJUANG terus beramal untuk istirahatnya di alam kubur. Saat orang-orang menumpuk harta untuk kesenangan dunia, seorang PEJUANG sibuk mengumpulkan amal untuk kebahagiaan akhirat. Semoga Allah memuliakanmu, PEJUANG!
  • When things go wrong… When sadness fills your heart… When tears flow in your eyes… Always remember 3 things : 1) Allah with you, 2) Still with you, 3) Will always with you.
  • Pandang hari ini dengan baik, karena itu adalah kehidupan, kehidupan yang terbaik. Dalam perjalanannya yang singkat terletak semua realitas dan kebenaran hidup. Kegembiraan-kegembiraan karena berkembang, megahnya perbuatan, anggunnya kekuatan. Sebab kemarin tak lain hanya sebuah kenangan, dan esok hanyalah impian. Tetapi hari ini, jika dijalani dengan baik, menjadikan setiap hari kemarin sebuah kenangan yang menyenangkan, dan setiap hari esok impian yang menawarkan harapan. Pandangkah dengan baik hari ini ^_^.
  • Ya Rabb… Jagalah sahabatku kala penjagaanku tak sampai kepadanya… Sayangi ia kala sayangku tak dapat merengkuhnya dalam dekapan nyata… Muliakanlah ia kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang bersahaja… Karena Engkau memiliki segala yang tak aku punya… Karena ku inginkan ia selalu menjadi saudariku di dunia dan mengharap pertemuan dengannya di surga.
  • Menjadi karanglah dengan segala kekuatanmu, menjadi melatilah dengan segala kelembutan+kebersahajaanmu, menjadi mutiaralah dengan segala keteguhanmu, menjadi hiulah dengan segal kebesaranmu, menjadi elanglah dengan segala kelebihan2mu, menjadi kupu2lah dengan segala kesabaranmu…atau menjadi apapun yang kau mau coz kau yakini kekuatanmu kau sadari kelemahanmu… tapi sadarilah hakikat kehambaanmu.
  • Setitik kasihmembuat kita sayang.. Seucap kata membuat kita percaya… Sekecilluka membaut kita kecewa… Tapi sebuah silaturahmi akan selamanya bermakna.
  • I asked for a strength, and Allah gave me difficulties to make me strong. I asked for wisdom, and Allah gave me problems to solve. I asked for prosperity, and Allah gave me brain and brawn to work. I asked for courage, and Allah gave me obstacle to overcome. I asked for love, and Allah gave troubled people to help. I asked for favors, and Allah gave me opportunities. I received nothing I wanted, but I received everything I needed. “Gusti Allah mboten nate sare…”
  • Ukhti… jika perjalanan begitu panjang dan melelahkan, sedang pertolongan Allah belum juga datang, maka ujian dan fitnah akan lebih keras dan lihat jika kita tidak bersabar… Ingatlah bahwa dia akan terus menguji di setiap kelemahan sampai kita benar-benar mempersenjatai diri kita dengan yang lebih baik. Tak ada yang tegar kecuali mereka yang dilindungi Allah… Merekalah orang-orang yang bisa menancapkan iman dalam jiwa, yang selalu khusnudzan dengan skenarioNya, dan yang selalu menjadikan diri mulia di sisiNya, karena kesabaran…Semoga urusan kita dimudahkan oleh Allah… AMIN
  • Apa kabar hati? Masihkah ia embun? Merunduk tawadhu di pucuk daun. Masihkah ia karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar iman? Masihkah ia bintang? Bercahaya terangi jiwa. Menjadi tempatmu berkeluh kesah. Ya Rabb, satu pintaku, saat aku sudah tak mampu lagi menggenggam erat persaudaraan kami, jangan pernah ia lepas dari genggamanMu…
  • Hikmah hari ini : Apa yang kita kejar2 dan harapkan kadang tidak lebih berharga dari apa yang sekarang kita punya, syukuri, manfaatkan, optimalkan. “Jika kamu bersyukur, akan Kami tambah nikmatmu. Jika kamu kufur, sungguh azab Kami sangat pedih..”
  • Sahabat SEJATI tak pernah MATI, sahabat SETIA tak pernah SIRNA, sahabat JUJUR tak pernah HANCUR, sahabat TULUS tak akan PUTU, sahabat yang SAYANG takkan pernah HILANG.
  • Dunia ini indah dengan ukhuwah, mengingatkan dengan nasihat, menguatkan dengan doa, memberi dengan ikhlas dan saling mmaafkan dengan kerendahan hati… Ukhtifillah, semoga kesabaran menjadi perisai hati anti dan berilah harga pada kecantikan anti dengan balutan istiqomah dan akhlaq mulia.
  • Dua orang yang berkasih sayang karena ALLAH, yang lebih utama di antara mereka ialah yang lebih sangat sayangnya kepad temannya.
  • Ya Rabb, selimutilah istirahat saudaraku ini dengan KemuliaanMu, hapuskan segala dosa dan kesusahan dari dirinya, bengunkanlah ia saat TahajudMu tiba, rahmatilah ia di kala SubuhMu datang menyapa.
  • Aku tahu… Rezekiku takkan mungkin diambil orang lain, karena itu hatiku tenang. Aku tahu… Amalku tak mungkin dilakukan orang lain, maka itu aku sibukkan diriku untuk beramal. Aku tahu… Allah selalu melihatku, karenany akau malu bila Allah mendapatiku berbuat maksiat. Aku tahu… Kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal untuk bertemu Rabbku..
  • Semoga Allah jadikan Al-Quran seperti musim semi yang menghidupkan hatimu, cahaya di dadamu, penghapus kesedihan dan penghilang duka citamu. Betapa Allah sangat dekat melihat kita.
  • Kadangkala Allah hilangkan sekejap matahari kemudian ai datangkan guruh dan kilat. Puas kita menangis mencari matahari, rupanya Allah ingin menghadiahkan pelangi.
  • Siapakah orang yang bijak itu? Orang yang bijak ialah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan2 dirinya untuk sebuah produktivitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Siapakah orang yang beriman itu? Orang beriman adalah orang yang senantiasa sadar bahwa detik2 hidupnya adalah karya dan amal shalih.
  • Ga semua bunga bisa jadi lambang cinta, tapi MAWAR bisa… Ga semua pohon bisa berdiri kehabisa air, tapi KAKTUS bisa… dan Ga semua orang bisa jadi sahabat yang baik, tapi ANTI bisa…
  • Barakah itu… bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami demi waktu, yaitu ketika Allah mencintai hambaNya maka Ia berkenan membuat hati sang hamba menjadi begitu peka, syukur dalam lautan nikmat, sabar dalam gelombang musibah, maka ia telah menapaki jalan Sulaiman juga sekaligus menyusuri pematang2 Ayyub as..
  • Ukhuwah itu degup penuh makna yang mengalir indah bersama aliran darah, berawankan ketsiqohan yang tiap tetesnya menalusup jernih, menembus karang prasangka dalam hati…
  • Dongeng sebelum tidur. Pada zaman dahulu kala, di mana belum ada manusia, belum ada tumbuhan, belum ada hewan, belum ada listrik, dan juga… belum ada yang bisa diceritakan. Udah bobok aja ya? Sekian, terima kasih…
  • Aku tahu tiap2 orang punya kekasih, tapi saat di masukkan ke dalam kubur kekasihnya pergi… Aku perhatikan setiap orang punya sesuatu yan gberharga yang pasti dijaga dan disimpan, tapi setiap aku punya sesuatu yang baik, maka aku infaqkan agar ia manjadii milikku yang kekal…
  • Praying is a free call to Allah. No SIMcard needed. No busy network. No pattery problem. No rejected calls. There just Good signals and Good answers. All the time…
  • Tidaklah muncul ORANG-ORANG BESAR dengan KARYA BESAR, melainkan di tengah KESULITAN dan KERJA KERAS.
  • Barangkali kita tidak bisa merubah keadaan, tapi bukankah kita bisa mengubah sikap kita dalam menghadapinya?? Kita tidak bisa mnengubah arah angin tapi kita bisa mengubah arah sayap kita.
  • Jika hambaKu terus-menerus berbuat dosa sepenuh bumi, kemudian menyesald an meminta ampunan padaKu, dan Aku tahu bahwa di hatinya tidak ingin mengulangnya selamanya, maka Aku lemparkan dosa-dosa itu dengan kecepatan yang melebihi kecepatan burung yang meluncur dari langit ke bumi.
  • May Allah be : above U 2 bless U, below U 2 support U, b4 U 2 guide U, behind U 2 protect U, inside U 2 sustain U…
  • Alhamdulillah untuk pagi yang indah, asa yang terus berkecambah, pikiran yang cerah dan iman yang senantiasa bertambah… amin… Moga Allah jaga kita selalu…
  • Kita akan serupa dengan apa yang kita pikirkan sepanjang hari (Emerson)
  • Ketika manusai mempunyai motivasi yang tinggi, sangatlah mudah untuk mencapai sesuatu yang mustahil. Namun ketika mereka tidak mempunyai motivasi, sangatlah mustahil untuk mencapa sesuatu yang mudah (Robert F Kennedy)
  • People will forget what you say. People will forget what you do. But people wound’t forget how do you make them feel.

Omelet Jagung Mie Pedas

Bahan :

Jagung 3 batang, pipil, rebus bijinya selama 3-5 menit

Indomie rasa ayam spesial, 1 bungkus, rebus sebentar, jangan sampai terlalu lunak, tiriskan

Keju cheddar 25 gram, parut

Telur 1 butir

Tepung terigu 100 gram

Bawang merah 3 siung

Bawang putih 3 siung

Bawang merah goreng, 1 sdm

Cabai rawit 4 buah, potong-potong

Cabai bubuk ½ sdt

Air secukupnya

Minyak goreng secukupnya

Tepung bumbu instan

Cara :

  1. Campur biji jagung, indomie rebus, keju cheddar, tepung terigu dan bumbu Indomie. Beri sedikit air agar tidak terlalu kental. Aduk rata.

  2. Cincang atau haluskan bawang merah, bawang putih. Tumis sebentar agar layu. Masukkan bumbu ini ke campuran 1. Aduk rata kembali.

  3. Kukus adonan selama ½ jam. Dinginkan.

  4. Potong-potong, goreng dengan tepung bumbu instan, seperti Kobe, dsb.

  5. Hidangkan dengan sambal Bangkok.

*Behind The Scene*

Pembaca coba deh. Terus bilang sama aku, apa bener ini wujud omelet? Aneh banget soalnya.

Oya, setelah omelet ini jadi, aku menerima beberapa ktirik saran dari para pencicip. Ada yang bilang, mie-nya terlalu blenyek, jadinya bumbunya gak terlalu kerasa. Jadi, pas ngerebus ga usah lama. Kriuk-kriuk aja. Terus ada juga yang bilang, kalo bisa ditambahin jahe bubuk biar ga bau amis. Pake telor soalnya. Menurutku sendiri, tepungnya kebanyakan dan telurnya kesedikiten. Kayak kurang mantep, gitu (warning! Ukuran tepungnya 100 gram di atas belum tentu bener lo ya. Nurut feeling anda aja deh…). Ada lagi, kata pakde kalo bisa jangan terlalu pedes. Soalnya, udah dikasi cabe 4 biji, ditambah cabe rawit bubuk pulak. Yah, ini sih terserah pembaca, mau yang flat-flat aja atau ala cobek kebakaran. Well, last but not least, selamat mencoba!!

PERTIMBANGAN MEMILIH SPESIALISASI

Selasa, 14 Oktober 200…

Suatu hari, aku menemukan data pdf yang berjudul “The Ultimate Guide to Choose Medical Specialty” pada flashdisk seorang temanku, Akh ****. Waw, dia update juga, ya? Buku itu bercerita tentang bagaimana cara seorang dokter umum menentukan pilihan studi Dokter Spesialisnya. Wah, bagiku, ini passs buanget. Selama ini, yang menjadi keinginanku adalah menjadi dokter spesialis bedah. Karena, mungkin aku terlalu banyak input informasi yang kurang berimbang kali ya? Aku pernah baca buku Komplikasi karangan Atul Gawande, dan serial yang pernah kutonton adalah Team Medical Dragon, dimana tokoh-tokoh utamanya adalah seorang dokter bedah. Jadi, boleh dikata, impianku itu masih kekanakan, karena belum didukung data yang akurat dan lengkap tentang minat dan kemampuanku. Hanya satu perspektif saja.
Nah, adanya buku ini membuat aku mengerti akan pentingnya mempersiapkan penentuan pilihan spesialisasi kedokteran. Kenapa penting? Karena tepatnya pilihan spesialisasi akan menjadikan sang dokter lebih bahagia dalam menjalani profesinya, dan menjadi dokter yang lebih baik bagi pasiennya.
10 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan spesialisasi :

  1. Apakah suka yang generalis (mempelajari ilmu yang luas, ex. Internist, surgery, pediatrician, family practice), spesialis (mempelajari ilmu yang dalam, ex. Obgyn, ophthalmology, otolaryngology) atau yang supportive (membantu generalis dan spesialis, ex. Anastesiologi, pathology, radiology)
  2. Apakah mencintai dasar ilmu yang menjadi fondasi utama spesialisasi tersebut, dan tertarik dengan perubahan informasinya
  3. Apakah cenderung suka berinteraksi dengan pasien yang banyak dan erat (internal medicine, family practice) atau yang banyak namun sambil lalu (surgery, emergency medicine). Yang rela berkotor-kotor (surgery, obgyn) atau yang lebih bersih (psychiatry, ophthalmology). Yang areanya terfokus (urology, orthopaedics), yang intensitas bertemu pasien relatif sedikit (radiology, pathology), dll.
  4. Apakah mempu bertahan menghadapi tipe pasien yang akan ditemui, ex. Dokter Emergensi menghadapi pasien yang seringkali marah dan menuntut perawatan padahal tidak darurat. Dokter anak menghadapi orang tua yang menuntut. Dokter onkologi menghadapi progress perbaikan penyakit mematikan pasien yang sangat sedikit dibandingkan usaha yang sangat agresif.
  5. Pilihlah spesialisasi yang membuat anda bahagia disana. Tidak peduli apa kata keluarga, kolegadan orang lain tentang pilihan itu. Ingatlah, bahwa setiap spesialisasi dokter memiliki peran yang sama penting dalam mendukung kerja besar membangun kesehatan. Dan ide bahwa spesialisasi tertentu memiliki prestise dan kehormatan yang lebih dari yang lain hanyalah opini personal saja.
  6. Pertimbangan lifestyle akibat dari resiko profesi yang akan diambil. Dunia kedokteran adalah dunia yang menuntut banyak. Telepon tengah malam yang membutuhkan kelahiran Caesar atau operasi apendiks, berkurangnya otonomi dalam manajemen perawatan, atau meningkatnya laporan dan ancaman penyidangan malpraktik. Setiap spesialisasi memiliki resiko yang khas dan berbeda, dan itu tergantung bagaimana hidup yang diinginkan oleh si calon spesialis.
  7. Panjangnya waktu residensi. Sadarilah bahwa beberapa spesialisasi membutuhkan waktu pelatihan yang lebih panjang dari yang lain. Semakin spesisifik pendidikan yang anda ambil, maka semakin lama waktu yang anda butuhkan. Anda sangat mungkin untuk selamanya menjadi pelajar! Tetapi kenyataan ini n bukan berarti anda harus memilih pendidikan spesialisasi yang perdurasi pendek hanya agar dapat segera menikmati hasil. Anda tentunya tidak ingin salah jurusan, kan?
  8. Kompetisi memasuki pendidikan spesialisasi tertentu. Karena sebenarnya untuk memasuki suatu pendidikan spesialisasi, para calon siswa harus menghadapi persaingan dengan teman sejawatnya yang lain. Anda pun harus menyadari seberapa besar kesempatan anda dalam memasuki spesialisasi yang anda inginkan. Sayangnya, meskipun dalam hati anda telah bertekad untuk menjadi dokter spesialis bedah atau penyakit dalam, anda belum tentu dapat mencapainya. Dan seorang dokter tidak boleh hanya terpaku, “Saya orangnya hanya cocok di spesialisasi anak”, atau malah,”Saya tidak akan pernah masuk ke radiologi karena tempat saya bukan di situ.”
  9. Masa depan pendapatan dan potensi konsumsi. Masih belum ada data untuk gaji standar dokter spesialis tertentu di Indonesia. Dan pajak juga harus menjadi pertimbangan.
  10. Kesempatan kerja. Begitu banyak informasi tentang spesialisasi yang ‘basah’ maupun ‘kering’, tidaklah menjadi bahan pertimbangan utama seseorang untuk masuk ke suatu spesialisasi. Setiap spesialisasi memang memiliki masa kejayaannya masing-masing. Tetapi jika anda hanya mengikuti trend terkini untuk menjadi spesialisasi, anda hanya akan menyiksa diri anda pada pekerjaan yang tidak anda cintai. Dan sebenarnya, mau bagaimanapun seorang dokter, apa anda pernah mendengar ada dokter yang kelaparan karena kekuarangan uang?
    Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, semoga para kolega yang hendak meneruskan jenjang pendidikannya ke program spesialis dapat sedikit terbantu. OK, sodara… GOOD LUCK!!!

MURABBI Yang Tak Dianggap …

(Play) … Sebagai-Murabbi-yang-tak-dianggap-ana-hanya-bisa-mencoba-mengalah … (Pause)

Anda membaca kalimat ini sambil menyanyikan nada lagu KYTD-nya ST12 (eh bener yah…?) ? Hoho, tidak perlu. Karena kasus ini memang tidak pake nyanyi kok.

Pernahkah anda mengalami hal seperti ini ?
Mentor : Assalamu’alaikum…!
Mentee : Waalaikum salam…
(Basa-basi, bla-bla..)
Mentor : Ana punya sebuah cerita nih. Sebuah kisah yang tertuang dalam bentuk puisi yang ditulis oleh penulis terkenal Salman A. Fatah (samaran). Ini tentang Imam Syafi’I yang menangis. Tahu sebabnya kenapa? (Semangat berkobar2, menganggap para mentee pada penasaran)
Mentee : (geleng2)
Mentor : Alkisah, Imam Syafi’I ditanya seseorang, mengapakah hukuman zina, yaitu berupa rajam,itu begitu berat? Dengan nada bergetar, Imam Syafi’I menjawab …
(Ada yang menyela) : Di! Ada ayahmu tuh…
Mentee : Kak, kami pulang ya. Assalamu’alaikum!!! (Kabur semua)
Mentor : (Bengong)


Eh-eh, iya. Wa’alaikumussalam warahmatullah…

Anda pernah? Hehe, meskipun ini kisah nyata, tapi jangan khawatir karena masih ada unsur lebay-nya sedikit. Jadi, para mentee saat ini masih belum sekurang ajar itu kok. Tapi ada satu hal yang harus dievaluasi dari kejadian ini. Mad’u terlalu sering menyela pembicaraan murabbi, sering bolos mentoring, seenaknya membatalkan pertemuan, dll, dsb. APA SEBAB MENTEE MENJADI TIDAK MENGHORMATI MURABBINYA?
Sebelum melaju ke pokok permasalahan, mari kita review kembali unsur-unsur penting dalam membina halaqah. Sehatnya Halaqah (As-Shihatul Liqo) terdiri atas unsur…… (to becontinued)

Spaghetti Leg aMur GaSheep*

Bahan :
Spaghetti-11 La Fonte, sesuai selera (biasanya sekitar 50-150 gram sesuai besar porsinya)
Saus :
Wortel 1 buah, potong dadu ½ x ½ cm
Jagung 1 buah, pipil atau ambil bijinya
Sosis (ayam / sapi) 1 buah, potong tipis
Daging ayam 50 gram, potong dadu ½ x ½ cm
Bawang merah 4 siung, cincang halus
Bawang putih 3 siung, cincang halus
Tomat hijau ½ buah, potong tipis
Cabai rawit 3 buah, potong tipis
Cabai merah halus 1-2 sendok makan (sesuai selera)
Sambal Bangkok Indofood, 1,5 sdm
Bumbu pecel siap pakai, 1 sdt
Kecap, jika perlu
Tepung maizena, jika perlu
Gula secukupnya
Garam secukupnya
Air, 1 cangkir
Minyak untuk menggorang

Cara Membuat :
1. Rebus spaghetti dalam air mendidih (sebaiknya diberi sedikit garam dan minyak 1 sdm). Angkat apabila spaghetti menjadi berwarna keruh dan diameternya 2x lipat mentahnya. Itu pertanda spaghetti sudak lunak. Tiriskan. Apabila sebelumnya belum ditambahkan, dapat diberi 1 sdm minyak agar tidak lengket satu sama lain.
2. Rebus wortel (1-2 menit) dan jagung (2-3 menit) dengan cepat agar tidak terlalu kehilangan nutrisinya. Tiriskan.
3. Panaskan 2 sdm minyak goreng dalam wajan, masukkan cabai merah halus pertama kali agar aroma lengurnya hilang. Setelah itu, masukkan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, tomat hijau, tumis sampai semua layu. Masukkan Sambal Bangkok Indofood, bumbu pecel siap pakai, garam, gula. Apabila terlalu pedas, dapat ditambahkan kecap atau sesuai selera.
4. Masukkan jagung, wortel, sosis, daging ayam ke dalam wajan, tumis sebentar. Beri air, masak terus hingga kuahnya terserap. Jika ingin lebih kental, dapat ditambahkan tepung maizena yang dilarutkan dengan air dingin. Aduk sebentar, angkat.
5. Tuangkan saus di atas spaghetti rebus. Taburi dengan keju cheddar parut. Siap dihidangkan. (untuk 2-3 porsi)

* Spaghetti Leg aMur GaSheep artinya “Lek Gak Murah Gak Sip (Kalo Nggak Murah Nggak Oke ^_^)”. Maaf ya, ngga ada fotonya… Keburu buas beringas, jadi gak pake poto-potoan. Berawal dari keadaan kelaparan, terus cuma nemu sebungkus spaghetti, dan luru-luru (memulung) bahan2 di kulkas dan sisa makanan semalam. SubhanaLlah, My Brother… You’re my inspiration in cooking. Hihh, ngirriiii… T_T

***********Good Luck***********

UAS Yang Kacau..

Aduh…#%$#&#^$II&#$#%$^*(#

Sudahlah. Blog ini dibuat bukan buat mengeluh, tapi untuk cari solusi. AYA, SEMANGAT!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.