MENGUNTAI ASA, MEMINANG CITA

(Memoar tentang Muhammadiyah 08 Batu, SMP-ku)

Jika aku ditanya, sejak kapankah aku menyadari sejauh mana berharganya diriku, sejak kapan talenta-talentaku terbuka, sejak kapan aku mengalami pengalaman-pengalaman seru dan tak terlupakan, itu sejak aku menjadi bagian darimu.

SMP Muhammadiyah 08 Batu… Sejak aku bersamamu, aku mengenal puisi yang nanti akan mengantarkanku kepada dunia teater di SMA. Aku mengenal public speaking yang nanti akan sangat membantuku dalam tugas presentasi dan argumentasi. Aku merasakan menjadi sosok popular yang mengajariku mengembangkan bagaimana sikap low profile. Menjadi mayoret, danton, juara paralel, juara lomba puisi, dll. Menjadi warga eksklusif tanpa kehilangan moment pergaulan grass root. Nge-gank dengan bermacam petualangannya. Menikmati rona-rona remaja,dan… merasakan cinta pertama.

Kelas 1…
Aku masuk SMP dengan prestasi akademis SD yang ‘memukau’. Otomatis, aku masuk kelas C yang telah sejak awal dipersiapkan untuk siswa-siswa pilihan yang masuk SMP ini. Di kelas ‘istimewa’ ini, aku bertemu dengan 14 orang siswa berdanem paling tinggi yang lain. Ulul, Yuni, Rafida, Piping, Iwan, Udin, Dwi, Toni, Zakiya (hanya sempat bersekolah sebentar, lalu wafat karena penyakit jantung yang dideritanya), Rangga, Yeni, Fandi, Dian, … (satu orang lagi aku lupa), dan aku sendiri .

Fasilitasnya, kami gratis gak usah mbayar untuk SPP perbulannya. Hehe… lumayan. Perjanjiannya, yang menjadi warga kelas ini adalah siswa yang dapat mempertahankan prestasinya dalam kancah 15 besar parallel angkatan. Barangsiapa yang lalai dan mengalami kemerosotan prestasi, maka takkan segan-segan untuk dipindahkan, seperti yang dialami Toni, yang terlempar ke kelas A. Berikut diganti-gantikan oleh Ratna, Khafi, Lilis, Yayan, dan mungkin ada yang lain, meski aku lupa. Anggota yang relatif tetap dalam kelas ini antara lain aku (ciee, gak narsis ni..), Ulul, Yeni, Piping, Iwan, Udin, Rangga, Fandi. Sedangkan Yuni, Dian, Rafida, seingatku mereka sempat terlempar ke kelas lain.

Aku juga ikut drum band. Dan nggak tau gimana ceritanya, aku diamanahi untuk menjadi mayoret bendera. Hehe… padahal nggak tau apa-apa. Jadilah aku pakai baju seperti Cleopatra, mimpin muter-muter bendera warna-warni gitu. Kami diundang main di mana-mana. Kadang di tempat yang jauuuuhh, atau sangat keriiing, atau sangat berangiin, atau sangat basah. Hehe… lebay ya? Tetapi, drum band ini memperindah kenangan masa mudaku. Dari sinilah aku mengenal teman-teman dari luar kelasku.

Kemudian aku bertemu dengan sahabatku Septita. Gimana awal ceritanya, ya? Lupa. Yang jelas,setelah aku bersahabat dengan Tita, akupun masuk ke gank-nya, Nurdin cs, yang dipimpin oleh Nurdin yang pintar dan populer. Bersama gank ini aku mengalami banyak kejadian yang seru, menyenangkan sekaligus memalukan. Salah satunya adalah pas mau ke rumah Nurdin di hari raya, aku malah kecebur selokan, dan terpaksa pinjem baju punya Nurdin. Hiks, muaaalu…

Di SMP Muhammadiyah ini, alam adalah sahabat utama. Mungkin karena sekolahnya yang ‘mewah’ alias mepet sawah kali ya? Hijaunya belakang sekolah selalu menyejukkan mataku, dan memberi kontribusi memori indah yang cukup banyak juga. Belajar di alam menjadi saat favoritku, dan metode favorit pak Choliq. Ekstra KIR (Karya Ilmiah Remaja) yang dibina beliau sering membawaku ke hijaunya rumput Torong, atau hijaunya lumut yang nempel di candi Jago (eh, bener tah namanya? Yang letaknya di Malang?).

Guru yang satu ini memang paling suka OUT OF BOUNDARIES kalo ngajar. Adaa, aja idenya. Tapi itu yang membuat aku selalu merasa semangat belajar dengan metode beliau. Kadang nonton VCD, naik gunung, jalan ke mana, atau mungkin di kelas saja tetapi dengan metodologi dan pendekatan yang berbeda. Seru lah pokoknya… Beliau juga yang mengenalkanku dengan Harun Yahya, peneliti muslim yang sangat padat karya. Beliau mengajarkan, kita harus menjadi seorang muslim yang kontributif. Mampu memberikan sumbangsih atau perubahan. Dan sampai sekarang, aku sungguh meyakini ini.

Pada tingkat ini, pergaulanku masih sebatas teman-teman kelas C dan Septita-Nurdin cs. Masih belum expand ke grass root, lah. Tetapi meskipun begitu, di level inipun aku sudah mendapat banyak pelajaran. Tentang asertivitas, yakni berani mempertahankan diri dari penindasan (thaks to Yuni Erdiati, my friend). Tentang ketegaran mempertahankan prinsip, meskipun harus sendirian (thanks to all my classmate who taught me this). Tentang kecintaan pada ilmu pengetahuan (thanks to Pak Zulkifli Hasan ^_^) yang mengizinkanku mengeksplorasi bengkel ilmiah beliau, dan ternyata secara tidak langsung telah mengantarkanku sampai seperti sekarang. Tentang mengembangkan potensi dan membangun cita-cita (thanks to pak Samsudi). Tentang belajar untuk berbesar hati dan bersikap ulet (thanks to pak Teguh Wijayanto). Tentang menjadi sosok muslim yang mampu menciptakan perubahan (thanks to pak Choliq). Semua ini ternyata sangat berguna nantinya, di tingkat usiaku selanjutnya.

Oh iya, hampir lupa. Special thanks pada seorang ‘nenek’, yang awalnya kami kira judes (kesan pertama : galak buanget! Aku pernah dibuat nangis di pertemuan pertama pelajaran beliau, dan gara-gara itu untuk 1 semester aku kapokk dah dengan Bahasa Inggris), tetapi ternyata ia adalah nenek baik hati yang selama 3 tahun selalu melimpahi kami dengan kasih sayang. Beliaulah yeng membuatku merasa akrab dengan bahasa Inggris, serasa seperti kawan lama. Mrs. Soeniati, saya kenang anda dengan cinta…

Kelas 2…
Atas kebaikan sekolah ini, aku dan Ulul diberi kesempatan untuk studi banding ke Jogja, tepatnya di SMP Muhammadiyah 3 Jogjakarta. Wah, banyak sekali yang bisa dikenang dari negeri Gudeg ini. Mungkin ia akan memakan halaman tersendiri.

Aku berangkat bersama Ulul, dang tinggal sekost dengan dia selama 2 bulan. Kami mengalami banyak hal. Mulai dari berbagi bersama, belajar bersama, kerja bersama, sampai bertengkar satu sama lain, lalu menemukan penyelesaiannya. Dari sana, kami belajar tentang kedewasaan dan lobbying dalam menyelesaikan konflik. Meskipun hubungan kami saat itu berasa Nano-nano, nantinya ketika kami bertemu kembali segala kenangan itu terasa sangat indah. Aku belajar banyak tentang kedewasaan dan kemandirian darinya. Thanks a lot, my friend.

Di tingkat ini pula, aku menambah orang di ruang hatiku dengan kehadiran Lilis. Ia sahabatku yang berasal dari kelas yang berbeda. Kelas A. Awal pertemuan kami masih kuingat. Kami saling mengenal karena kami sama-sama mayoret bendera. Tapi ya nggak akrab gitu, biasa aja. Sampai suatu hari, Lilis ke rumahku dan kami mengobrol sedikit. Tapi entah mengapa, ada suatu ‘chemistry’ yang membuat aku menjadi merasa dengat dengannya. Jadilah kami sahabat yang runcang-runcung bersama. Kami berangkat latihan drum band bersama, jagongan bersama, berbagi cerita, banyaklah.

Kemudian, karena prestasinya yang meningkat, di kelas 2 ini Lilis dimutasi ke kelas C. maka makin akrablah kami. Aku sangat menyayangi dia. Di kelas, kami memiliiki perjanjian. Aku tidak akan pernah menconteki dia dalam keadaan apapun, karena bagiku hal itu hanyalah menjerumuskan dia saja. Aku ingin dia bertahan di kelas C dengan usahanya, dan ia mengerti itu. Ini membuatku semakin sayang padanya.

Persahabatanku dengan Lilis membuatku mengembangkan pergaulan ke kelas lain. Aku jadi punya banyak teman dari kelas A dan B, serta ikut seru-seruan dengan mereka. Margiana, Fauziah, Betty, Hawa (Salwa), si kembar Riska-Riski, Ayu, Erryx, Ferrial, Arip, Agus, Aris, Heri, …, wah siapa lagi ya? Banyak banget… Aku belajar untuk menghargai perbedaan dan menghargai orang lain bersama mereka. Mereka sering bilang minder jika di dekatku, dan karena itulah aku belajar untuk mengecilkan kesenjangan.

Entah mengapa, aku terpilih lagi menjadi satu di antara tiga mayoret depan di kelas 2 ini. Konsekuensinya, aku harus menyamakan langkah dengan mbak Amalia dan mbak Prasasti yang 1 tahun lebih tua dariku. Ini menjadi masalah tersendiri. Kebanyakan anggotaku adalah anak kelas 3. Padahal di usia SMP, selisih 1 tahun saja sudah terasa sangat jauuuhh…jaraknya. Tetapi, great thanks to Allah yang memberikan aku kesempatan seperti ini. Meskipun tadinya kujalani dengan agak minder, aku harus segera belajar menjadi seorang pemimpin untuk kalangan di atasku.

Kadangkala, aku mengalami kendala. Ada beberapa anak yang kurang suka dengan pengangkatanku yang masih ingusan ini. Dan dalam mengekspresikannya, mereka melakukan ‘pembangkangan’ terhadapku. Contohnya, ada yang dengan sengaja tidak mau menghadapku ketika musik dimainkan. Padahal, aku saat itu berdiri tepat di depannya. Saat itu, rasanya terhina banget. Tetapi aku tahu, inilah saatnya menunjukkan bagaimana seharusnya mereka bersikap.
“Mbak X, tolong hadap ke saya!” kukatakan itu dengan tegas tetapi lembut, dan kuulangi 2 kali dengan sabar tanpa emosi. Pendekatan ketegasan yang diikuti dengan kelembutan ternyata efektif! Aku mampu menyampaikan aspirasiku, tetapi tidak menyakiti dan menciptakan dendam. Dan Mbak X yang tadinya sadis dan intimidatif padaku, berangsur berubah lebih lunak serta ia harus pikir-pikir panjang dulu kalau mau menjegalku.

Kelas 3…
Di tingkat ini, aku mulai belajar dengan serius untuk menyambut ujian. Rasanya saat itu beban akademisku terasa lebih berat karena aku harus bersaing untuk sederajat dengan siswa-siswa SMP negeri. Kadangkala, aku merasa minder jika aku pulang semikrolet dengan mereka. Tetapi selalu kuhibur diriku sendiri, jika aku sekolah di tempat lain aku tidak akan mendapat kenangan seindah ini. Dan ternyata hal itu memang benar adanya.

Hobiku pada waktu itu adalah nongkrongin ruang tamu kepala sekolah yang saat itu masih dijabat oleh pak Teguh Wijayanto. Aku bisa pulang jam 5 sore kalau sudah terlanjur terbuai di sana. Kenapa? Karena di sana ada rak yang berisi begitu banyak buku-buku terjemahan luar negeri yang membahas berbagai bidang ilmu. Mulai dari sains, teknologi, geografi, sejarah dunia, kedokteran, psikologi-psikososial, kebudayaan, sosial, politik, kriminologi, dan bidang-bidang lain yang bagiku sangat menarik, meski kadang bahasanya membuat aku bingung.

Sungguh, momen di tempat ini sangat membangun diriku. Dari sinilah aku tertarik untuk mengembangkan pengetahuan seluas mungkin, dan tertarik dengan berbagai bidang ilmu. Aku jadi semakin suka membaca, apapun itu.

Dan di tempat ini pula aku sering mengobrol dengan para guru. Pak Teguh, pak Sam, pak Choliq, pak Zul,pak Ajis,pak Edy, pak Amin. Mendiskusikan tidak hanya tentang pelajaran sekolah, tetapi juga pelajaran hidup. Aku belajar berbagai wisdom (kebijaksanaan/pelajaran) yang telah mereka uji dalam hidup mereka. Banyak diantaranya yang sudah aku lupa, tetapi mungkin tanpa sadar telah aku jalankan. Dan di sini pulalah momen itu terjadi dengan guruku, Pak Sam,
“Nanti setelah lulus SMP, kamu mau ke mana Mer?”
“InsyaAllah kalo lolos, ke SMA negeri 1 Pak”
“Ooo…”
“Pak, kalo saya punya kesempatan, saya ingin kuliah di FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA, Pak. Saya ingin menjadi dokter”
Aku lupa pak Sam kemudian menjawab apa.

Saat itu, aku tidak benar-benar serius mengatakan kalimat itu. Karena situasi akademis dan ekonomi yang tidak menonjol membuatku menganggap, hal itu akan lumayan lucu jika dijadikan banyolan. Tetapi malamnya, aku menimbang kalimatku dan akhirnya aku bertekad bahwa itu bukanlah sekedar kata belaka. Jika memang Allah memberikan kesempatan, aku akan memperjuangkannya. Ia telah menjadi targetku. Dan dihadapan pak Sam, aku mengazzamkan cita ini. Azzam yang ternyata, membawaku semakin dekat dan dekat dengan cita-citaku.

Aku lolos masuk SMA Negeri 1 Batu. Lalu di sana aku berkesempatan menjajal medan Olimpiade biologi, yang meskipun tidak lolos di tingkat provinsi, tetapi membantu memantapkanku dalam wawasan hayati. Kemudian aku mendapatkan nilai UAN yang cukup menyenangkan. Dan ketika SPMB, aku tidak ragu lagi akan memilih apa. Hingga sampailah aku di sini sekarang. Ruang kuliah Prodi Pendidikan Dokter Fak. Kedokteran Univ. Brawijaya. Hal yang saat SMP dulu nyaris mustahil dicapai seorang anak sekolah pinggir sawah, tetapi sejatinya bukan musykil. Inilah yang membuatku meyakini akan pentingnya membuat dan mendeklarasikan cita-cita, menatanya menjadi target, bersabar menyelesaikannya satu persatu lalu akhirnya menggapai sang impian.

Ternyata lagi-lagi di ruang ini, aku dipinjami oleh pak Amin sebuah buku bersampul unik (gambarnya seperti kain celana jeans), The Seven Habits of Highly Effective Teens, ditulis oleh Sean Covey. Beliau memang meminjamiku beberapa buku lain, tetapi buku inilah yang paling berkesan. Tentang bagaimana seharusnya seorang remaja lakukan untuk menjadi efektif dan sukses, buku ini ditulis dengan apik dan luwes bahasanya. Sungguh, The Seven Habits telah merevolusi diriku. Buku inilah awal dari buku-buku pengembangan kepribadian lain, yang nantinya mewarnai karakterku. Terima kasih pak Amin. Meski aku tidak pernah menjadi muridnya (karena beliau mengajar di SD Muh), apa yang beliau perbuat terhadap hidupku sudah cukup untuk menempatkan beliau sejajar dengan para guru. Dan di ruang tamu kepala sekolah tersebut, aku membuktikan sendiri pernyataan ini :

You are the same today that you are going to be five years from now except for two things :
The people with whom you associate and the books you read.
Anda akan tetap sama seperti pada hari ini pada kelima tahun ke depan, kecuali untuk dua hal :
Dengan siapa anda bergaul dan buku-buku yang anda baca.

(Charles Jones)

Special Thanks for all of contribution :
Pak Teguh Wijayanto, Pak Al Ajis Arifin, Pak Abdul Choliq, Pak Samsudi, Pak Edi Susanto, Pak Teguh Riyanto, Bu Soeniati, Bu Sri Retnoningtyas, Bu Latifah, Bu Ida Misaroh, Bu Eka, Bu Jamilah, Pak Nanang Komar, Bu Titik, Pak Prayit, Mas Budi, Mba Icha, Mas Basroni, para pelatih Drum Band, Tapak Suci, Karya Ilmiah Remaja, Training Outbond, dan masih banyak lagi orang yang tak mampu aku sebut dan kontribusi yang tak dapat aku tuturkan. Kalaupun mampu, jangan-jangan memoar ini akan menyamai tebal Tetralogi Laskar Pelangi(^_^). Sekali lagi, terima kasih, jazakumuLlahi khair…