Ketika Kita Dinanti…

Aku dan Dwi temanku baru saja pulang dari acara walimah salah seorang saudari kami yang bertempat di kompleks perumahan Angkatan Udara Abdurrahman Saleh. Jauhnya jarak, ditambah dengan acara begadang pada malam sebelumnya membuat kami agak disorientasi. Nyaris saja kami berdua tertidur di jalan. Padahal kami dalam keadaan mengendarai motor!! Akhirnya kami memutuskan mampir di Masjid Raden Patah untuk beristirahat.

Tak lama berselang, Bu Diah mengirim SMS delegasi mengisi pengajian ibu-ibu jam 4 sore di desa Gunungsari, Sumberejo, Kota Batu. Santai, masih jam 1, batinku. Kami malah masih sempat jajan bakso bakar dan es campur. Dengan segala keribetan itu, akhirnya aku sampai di rumah Batu pukul 15.30. Santai, paling mereka juga baru datang jam 16.30. Malah jangan-jangan mereka baru lengkap setelah jam 17.00, batinku lagi.

Dengan berbekal keyakinan tersebut, aku shalat lalu bercengrama mesra dengan keluarga, sampai pukul 16.30. Baru setelah itu, aku berangkat ke tempat tujuan. Sebenarnya aku pernah ke sana. Tempat yang cukup jauh jauh jika ditempuh dengan sepeda motor, 20 menit. Apalagi jika berjalan kaki. Sayangnya saat ini aku lupa jika jaraknya lumayan, dan ditambah aku sudah lupa tempatnya. Dengan sedikit cemas, kupercepat laju motorku, dan berharap memori jangka panjangku masih menyisakan ruang untuk denah tempat tersebut. Beruntungnya, firasat menuntunku pada gang menuju panti itu, tanpa harus ada acara nyasar-nyasar. Terima kasih ya Allah…

Ternyata di panti, ibu-ibu itu sudah lengkap. Dan kedatangan ku disambut dengan tatapan agak sebal. “Sudah menunggu lama ya, Bu?” tanyaku. “Iya,” jawab mereka, tanpa sungkan. Lho? Jawaban yang sangat jujur. Wah, berarti aku sudah keterlaluan. Lalu kulihat jam di dinding, dan … MasyaAllah!! Pantesan. Nyaris jam 17.00. Tak kusangka, perjalanan dari rumahku ke tempat ini yang bertetangga desa telah menyita waktu 30 menitan. Mereka telah menunggu mungkin lebih dari 1 jam…

Refleks menusiawiku segera membentuk pertahanan diri. “Aduh, mohon maaf, Bu. Ini tadi saya dari Malang. Maafkan atas keterlambatan saya…”. Alasan seolah syar’i ini membuat wajah setengah bersungut mereka cerah kembali. “Aduh, ndak papa mbak. Mbak kan asalnya jauh…” kata mereka dengan tulus. Astaghfirullah… astaghfirullah…

Ketika kita dinanti, sesungguhnya kita sedang dipercaya untuk berusaha sekuat tenaga untuk sampai secepat mungkin. Akan tetapi kita sering tidak menyadari, bahwa orang yang menanti itu kepanasan dirundung gelisah. Dan melah menganggap bahwa orang lain akan sama tidak disiplinnya dengan kita.

Ibuku pernah menasehatiku, “Jangan sampai kita ditunggu orang lain. Apalagi ketika janjian, ternyata kita belum siap dan terpaksa membuat orang itu menunggu persiapan kita selesai. Asal tahu saja, orang lain menghormati kita dengan cara menepati perjanjian mereka dengan kamu. Masa kamu sendiri tidak bisa menghormati mereka dengan cara tepat waktu, dan membuat mereka menanggung akibat ketidak dewasaanmu?”

KETIKA KITA DINANTI

Begadang dan Kedewasaan

SENIN, 13 April 2009

Malam kemarin aku begadang nonton TV lagi. Sebenarnya niatnya mau belajar buat UTS yang udah mulai Selasa besok, dan nonton TV-nya Cuma buat selingan biar gak ngantuk. Tapi, malah nggak noleh handout sampe paginya. Yang aku dapat malah Charlie & the Chocolate Factory, Electra sang Gaijin yang melindungi Abby the Treasure, sampai awal cerita Domino sang pemburu bayaran cantik. Bahkan ada yang aku lupa. Terlalu nggak tuh… Pokoknya, aku menonton sekitar 5 potongan film yang berbeda.

Sejujurnya, menonton film adalah kegemaranku. Biasanya, film yang menarik perhatianku adalah tipe fantasi (kayak Harry Potter, Charlie & the Chocolate Factory, Eragon, Spy Kid, Spy Teen?, X-Men), animasi (Barbie’s Story Series, Shrek, Toy Story, The Antz, Tim Burton’s Corpse Bride), film psikologis atau thriller yang gak pake hantu menjijikkan (Gothika, Section 9, Ghost Ship), biografi seseorang atau profesi tertentu (Hannibal Lecter, Team Medical Dragon, Patch Adam), drama remaja dan keluarga (kisah tentang seorang tahanan Nazi yang melindungi fisik dan mental anaknya dari penyiksaan kamp pemusnahan dengan keceriaan, trus Mean Girl, The Sweetest Thing, Legally Blonde, Never Been Kissed, Beethoven) aksi fantasi sampe aksi komedi (Electra si Gaijin yang tadi malam, Jackie Chan films, Martial Law, Beautiful Weapon, Kung Fu Soccer, Kung Fu Mahjong), klasik-etnik-kolosal (The Myth, Curse of the Golden Flower, tapi jijay banyak auratnya, Helen of Troy, Inuyasha the Movie) komedi (Bobo Ho series, ), alien-alienan (The Faculty, Attack from Mars), aksi heroik melawan alam yang berdasarkan fakta ilmiah (The Volcano, Vertical Limit, trus fim yang lupa judulnya, pokoknya bintangnya Pierce Brosnan dan Michelle Pfeiffer paling, tentang upaya survival sebuah keluarga untuk keluar dari bara merapi, ) detektif2an atau aksi misteri (Detective Conan the Movie, James Bond : hiyek, sebenernya gak suka, The Thomas Crown Affair, ), kartun anak-anak (Petualangan Doraemon dan Nobita di Negeri Apa gitu, Crayon Shinchan the Movie, ), dan banyak lagi yang lain, Cuma aja lupa. Bahkan kalau saja ada Dora and Boots the Movie pun mungkin aku doyan.

Tapi aku nggak suka film yang terlalu action tapi gak ada makna mendalamnya, kayak Rambo. Trus film horor yang hantunya terlalu menjijikkan, kayak Zombie, film hewan2 pemangsa dalam ukuran besar kayak Anaconda, Shark, tentang laba2 raksasa lah, kutu raksasa lah, tikus buas lah, sejak kapan Discovery Channel jadi sebegini khayal? Trus film yang terlalu terbuka dalam mengekspos kekerasan, kayak film yang diperankan oleh, aduh lupa, tentang penyelidikan seorang istri terhadap almarhum suaminya yang berujung pada kejahatan pelecehan dan pembunuhan yang dilakukan sang suami selagi hidup pada seorang gadis muda, itu film agak kasar juga.

Wow, kalo dipikir banyak juga ya. Belum lagi yang udah lupa judulnya. Tapi ada hal penting yang seringkali aku lupa. Aku suka asal nonton tanpa menyaring kemanfaatan suatu film. Asal seru dan sesuai dengan selera di atas, hayuk… meski kadang membuat jijay sendiri kayak Curse or Golden Flower. Atau yang terlalu banyak mengekspos kekerasan dan ide pembunuhan kayak Gothika, Section 9, Ghost Ship. Terlalu banyak mengungkap life style bebas kaum Barat, menghalalkan perjudian kayak Kung Fu Mahjong, God of Gambler.

Saking sukanya sama film, aku nggak bisa menahan diri untuk tidak begadang nonton, meski besok mau ada UTS kek, praktikum kek, acara penting apa kek, perjalanan ke mana kek. Seolah aku nggak perduli besok, yang penting sekarang aku senang karena berhasil menonton film yang menarik hatiku. MasyaAllah, kok jadi gini ya? Bukannya ini bibit-bibit memperturutkan hawa nafsu? Astaghfirullah… Dulu malah lebih parah. Aku sampai rela menunda sholat hanya agar tidak ketinggalan sebuah film. Aduh, sepertinya aku harus meruqyah diri sendiri nih. Aku seolah sudah kerasukan film.

Ini juga bagian dari indikator ketidak kedewasaanku, selain hobi telat. Menunjukkan bahwa aku masih belum bisa menguasai diri, yang seharusnya menjadi salah satu ciri kedewasaan selain dapat memahami orang lain, bersikap ngemong dan menjadi contoh. Dewasa bukanlah persoalan waktu. Ia ada dalam dimensi kepribadian. Dimana untuk mencapainya, seseorang perlu mengalami banyak hal yang pahit untuk mendapatkan pelajaran. Tetapi akan lebih baik jika kita belajar dari orang lain untuk mendapatkan ilmu, sebelum kita sendiri yang mengalaminya. Itu yang disebut dengan kebijaksanaan.

Karenanya, Aya… mungkin akan sulit bagimu untuk mencegah diri dari bergadang di tengah malam untuk menonton televisi. Tetapi, kau harus belajar dari orang lain yang mengalami kepahitan akibat keburukan, sebelum hal yang sama terjadi padamu. Be wise. Jadilah bijak. Film yang tidak berguna akan meracuni pikiranmu yang bersih, membuatmu lalai dengan tugas dan kewajiban, membuatmu terlupa dengan tujuan awalmu dan mewarnaimu dengan pemikiran yang menimbulkan lintasan buruk, dan lama-lama mengubah pendirianmu. So, pilih-pilih kalo mau nonton!!

THE THOMAS CROWN AFFAIR

Pemain       : Pierce Brosnan (Thomas Crown), Rene Russo (Christine Banning)

Thomas Crown adalah seorang ahli keuangan yang kaya dan berpengaruh. Ia seorang pencinta lukisan dan sering mengunjungi ruang khusus aliran impresionis di suatu museum terkenal. Salah satu lukisan yang menarik hatinya adalah Monet, lukisan warisan berharga kebanggaan museum tersebut. Dengan trik yang sangat cerdas, Mr. Crown mencurinya dari ruang impresionis tanpa ketahuan semua pihak.

(Trik selengkapnya sebagai berikut :

Ia menyuruh sekelompok perampok lukisan untuk mengacaukan situasi sehingga ia bisa menyelinap ke ruang impresionis, dimana Monet disimpan. Ia masuk saat alarm pengaman telah diaktifkan, sehingga ia harus menyelesaikannya dalam waktu yang sangat singkat. Di ruang tersebut terdapat kursi duduk yang di bawahnya Crown menyimpan suatu koper yang akan digunakan untuk menyimpan Monet yang ia curi. Bahan dan warnanya sama dengan kaki kursi, sehingga tidak mencurigakan. Setelah semua pintu pengaman teraktifkan akibat kekacauan, ada satu pintu yang tidak tertutup karena diganjal koper hitam yang sebelumnya ia bawa. Koper sersebut berisi bahan dari tiatanium yang mampu menahan beban dan tekanan pintu pengaman. Dengan terbkanya pintu tersebut, ia bisa menyelinap keluar dan bergabung bersama pengunjung yang berlarian dana kekacauan. Wuih, hebat kan? )

Polisi menuduh para perampok lukisan yang telah mengambil Monet. Tetapi tidak demikian pendapat Christine Banning, seorang detektif yang bekerja pada perusahaan asuransi dimana Monet diasuransikan. Ia telah mengarahkan tuduhan pada Crown sejak awal, dan bahkan mengutarakan dugaannya tersebut pada Crown. Ia menyelidiki Crown selama beberapa hari.

Melalui Crown pulalah Chistine mencuri kunci rumah Crown untuk mengambil lukisan Monet. Tepat seperti dugaannya, Monet ia dapatkan di rumah Crown. Tetapi setelah diselidiki oleh dokter forensik, lukisan itu palsu.

Sementara, Crown menyumbangkan lukisan berharganya yang lain untuk mengisi kekosongan ruang yang ditinggalkan Monet. Judul lukisannya lupa…

Kebersamaan Christine dengan Crown telah membuatnya jatuh cinta. Ia cemburu pada Anna, seorang wanita yang sering terlihat bersama Crown. Padahal itulah cara Crown untuk menguji apakah Christine mendekatinya karena benar-benar mencintainya atau hanya untuk penyelidikan Monet. Dan sang pengusaha cuek berusia 42 tahun itupun sebenarnya jatuh hati pada Christine yang cerdik itu.

Cinta membuat Christine kurang obyektif dan menahan bukti-bukti yang ia temukan. Tetapi ia beberkan bukti tersebut dan meneruskan investigasinya karena cemburu. Namun setelah diyakinkan, Christine percaya pada penjelasan Crown dan hendak pergi persamanya meninggalkan kota itu.

Sekali lagi Christine dikecewakan. Ia menyaksikan Anna berada di dalam kamar Crown. Kemarahan Christine telah membuatnya memutuskan untuk menjebak Crown untuk ditangkap. Padahal Crown telah menyatakan akan mengembalikan Monet dan mempercayai Christine untuk tidak mengepungnya dengan polisi selama proses pengembalian tersebut.

(Trik pengembaliannya selengkapnya sebagai berikut :

Di dalam pengintaian kamera polisi, Crown seolah berusaha menampakkan diri. Ia lalu memakai topi bulat, jas abu-abu dan koper coklat. Ia bergerak menuju ruang impresionis, namun ternyata di sana telah banyak orang-orang yang mendadak memakai pakaian yang sama dengan Crown. Crown berputar-putar untuk mengecoh polisi yang membuntutinya. Walhasil, tidak hanya di kamera, dalam penguntitanpun Crown tidak berhasil didapat. Sementara itu, ketika Crown melewati ruang improsionis, ia nyalakan alarm segingga pintu pengaman otomatis tertutup. Kerai besi pelindung lukisan mulai bergerak menuupi semua lukisan. Ia lemparkan bom asap, sehingga sistem anti kebakaran ikut aktif. Setelah kerai penutup lukisan tertutup semua, kran pemadam kebakaranpun menyemburkan airnya. Ternyata, ada satu sisi lukisan yang tidak tertutup kerai karena tertahan pensil, yaitu lukisan yang menggantikan tempat Monet yang beberapa hari yang lalu disumbangkan  oleh Crown kepada museum itu. Dan semburan air pemadam telah menghapus lukisan itu, yang ternyata lagi adalah hanya salinan dari cat air. Di balik lukisan itu, ada Monet, lukisan yang selama ini dicari-cari. Karena Crown telah mengembalikan lukisan itu secepat ia mengambilnya, ia telah bebas dari dakwaan hukum. Iapun sudah meloloskan diri tanpa bertemu seorang polisipun. Ya ampun!! Iseng banget sih…)

Namun ternyata, setelah Monet dikembalikan, ada lagi lukisan yang hilang. Lukisan itu adalah lukisan yang oleh Christine ditunjuk dengan asal ketika ditanya Crown, lukisan mana yang ia mau apabila Crown akan mencurikan untuknya.

Kesiapan Tenaga Medis dalam Menyambut AFTA 2010

AFTA 2010, Indonesia masih sebagai pangsa pasar?

Pergantian tahun 2010 telah begitu dekat di ambang pintu. Berbagai macam agenda negara telah terlaksana. Akan tetapi, dekatnya tahun tersebut kini menimbulkan kekhawatiran baru, terutama di kalangan penyedia layanan kesehatan di Indonesia. Tahun 2010 berarti saatnya dilaksanakan perjanjian antar negara tetangga di ASEAN berupa AFTA, Asean Free Trade Area, atau bisa disebut juga Area Pasar Bebas ASEAN.

Perjanjian AFTA atau ASEAN FreeTrade Area (AFTA) dibuat pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan menjadi perwujudan kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN. Rencana ini ditujukan untuk menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia yang akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.

Kesepakatan itu disetujui oleh 6 negara anggota. Karena dalam perjalanannya ASEAN mengalami pertambahan anggota, sehingga AFTA dilaksanakan secara bertahap. Idealnya, pembebasan semua bea masuk di 6 negara pendiri ASEAN telah dilaksanakan di tahun 2003, dan di tahun 2010 untuk negara sisanya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015. Ini semua adalah target maksimal.

Dalam hal kesiapan tenaga medis menyambut AFTA 2010 di Indonesia, banyak kalangan masih meragukan daya saing rumah sakit Indonesia jika dibandingkan dengan rumah sakit negara tetangga, sebut saja Singapura atau Malaysia. Jangan bayangkan dulu ketika nanti setelah AFTA berlaku. Saat ini saja ketika Pasar Bebas masih belum dilaksanakan pun, sudah menjadi rahasia umum bahwa begitu banyak warga Indonesia yang berobat ke negeri jiran tersebut, terutama untuk mencari pelayanan kesehatan profesional yang memuaskan. Masih banyak rumah sakit di Indonesia yang belum mampu memberi layanan berkualitas dan efisien sehingga dapat bersaing dengan rumah sakit-rumah sakit negara tetangga. Melihat kenyataan ini, tidaklah aneh jika Indonesia masih ditengarai hanya akan menjadi pangsa pasar dalam era Pasar Bebas ASEAN nanti.

Adang Bachtiar, Ketua Pusat Kajian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di Jakarta, Sabtu (5/7/2008) di website www.klikdokter.com mengatakan, ”Diberlakukannya AFTA 2010 bisa jadi ancaman sekaligus peluang bagi rumah sakit di Indonesia. Dengan 10-15 persen rumah sakit mampu bersaing dengan layanan kesehatan di Singapura dan Malaysia, kita tampaknya lebih siap sebagai pangsa pasar.”

Bertanding Kualitas

Mari kita menengok ke negara tetangga untuk bertanding kualitas. Tidak perlu terlalu banyak. Cukup ke negeri jiran yang telah berkompeten dalam pelayanan kesehatan internasional, Singapura dan Malaysia. Yang pertama kita akan ke negara jiran yang kecil, Singapura. Singapura memiliki sistem kesehatan kelas dunia yang telah menjadi teladan model administrasi tim kesehatan presiden Obama, yang kemungkinan akan mereformasi sistem kesehatan di Amerika Serikat. Sistem kesehatan Singapura juga diakui oleh WHO sebagai yang terbaik di Asia, yang kemudian diikuti oleh Hong Kong dan Jepang. Pada tahun 2003, the Political and Economic Risk Consultancy (PERC) memberikan Singapura ranking ketiga sebagai sistem kesehatan terbaik sedunia. Padahal Singapura hanya memiliki 12 rumah sakit dan fasilitas medis lain. Tetapi semuanya telah terakreditasi oleh the Joint Commission International (JCI), suatu badan yang telah mengakreditasi administrasi akuntansi sepertiga institusi medis di seluruh Asia. Singkatnya, segala jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dapat diperoleh di Singapura dengan biaya yang rasional dan pelayanan yang baik.

Berikutnya negara persemakmuran Malaysia. Dalam sepuluh tahun terakhir, Malaysia telah menjadi tujuan utama penduduk internasional untuk pelayanan kesehatan. Dengan standar kualitas yang tinggi, peralatan yang canggih, harga yang kompetitif dan keahlian yang mumpuni, Malaysia telah mencatatkan diri sebagai negara yang berkembang pesat dan menjadi tujuan dalam turisme kesehatan. Ditambah lagi dengan bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa sehari-hari, sehingga orang asing yang berobat ke sana relatif tidak mendapatkan masalah komunikasi, meski dengan level pelayanan yang terkecil.

Insan perwakilan dari kaum akademis Malaysia, Prof. Dr. Syed Mohamed Aljunid dari Universitas Kebangsaan Malaysia mengatakan, ”Masyarakat itu mencari layanan kesehatan berkualitas dan efisien dalam biaya. Layanan kesehatan di Indonesia sering dikeluhkan mahal dan hasilnya tidak memuaskan. Lebih dari 50 persen habis untuk obat-obatan. …”

Medical Tourism, Bentuk Globalisasi Pelayanan Medis

Selain tantangan AFTA yang akan dihadapi oleh tenaga medis Indonesia, ada pula wacana baru dalam bidang kesehatan global yang harus diwaspadai potensinya. Belakangan ini telah berkembang Medical Tourism, atau Turisme Kesehatan di kalangan penyedia layanan kesehatan di seluruh dunia. Wacana apa ini? Medical Tourism (disebut juga Medical Travel, Health Tourism atau Global Healthcare) adalah suatu definisi yang digunakan oleh agen travel dan media massa untuk mendeskripsikan pesatnya perkembangan travelling melewati batas antar negara dengan tujuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Faktor yang mendorong terjadinya peningkatan angka Turisme Medis adalah disebabkan tingginya angka pelayanan kesehatan, panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk menunggu prosedur tertentu, kemudahan kunjungan internasional, dan peningkatan teknologi dan standar pelayanan kesehatan di banyak negara. Para turis ini biasanya datang dari Dunia Pertama, seperti Eropa, Timur Tengah, Jepang, Amerika Serikat dan Kanada. Hal ini disebabkan besarnya populasi di negara asal, tingkat kesejahteraan yang secara umum relatif baik, besarnya biaya kesehatan yang ditawarkan di negaranya, dan meningkatnya ekspektasi terhadap pelayanan kesehatan.

Mari kembali menengok ke negeri jiran yang menjadi referensi para wisatawan mancanegara untuk tujuan Turisme Medis, yaitu Malaysia. Menteri Pariwisata Malaysia, Dato’ Sri Azalina Othman Said, menyatakan dalam wawancaranya dengan The Jakarta Post pada 20 Januari 2009, bahwa pelayanan kesehatan yang sering dipesan para wisatawan antara lain penggantian sendi, operasi pintas jantung, bedah kosmetik dan perawatan gigi.

Ada banyak faktor yang membuat Malaysia menjadi laris dikunjungi para pasien wisatawan itu. Antara lain karena Malaysia memiliki dokter-dokter dan tenaga medis dengan kualifikasi tinggi, terlatih dan berpengalaman. Pasien-pasien asing itupun merasa nyaman dengan beragamnya kultur Malaysia dan staf medis yang multilingual. Bahasa Inggris yang dipakai secara luas dan sudah menjadi bahasa keseharian mempermudah komunikasi antara pasien asing dengan staf medis. Selain itu, situasi politik yang relatif tenang dan stabil membuat wisatawan tidak khawatir dengan stabilitas keamanan di sana.

Kreatifitas Untuk Peningkatan Pelayanan

Setelah berjalan-jalan ke negara tetangga, mari kita kembali ke negara kita. Untuk mengantisipasi perdagangan bebas ASEAN atau ASEAN Free Trade Area 2010 di bidang layanan kesehatan, mutu rumah sakit di Indonesia perlu ditingkatkan agar pasien tidak mencari layanan kesehatan ke negara-negara tetangga, yang disertai dengan pengembangan pariwisata medis. Harus diakui, dari segi kualitas, kondisi sebagian rumah sakit di Indonesia memprihatinkan. ”Menghadapi AFTA 2010, kini akselerasi akreditasi nasional bagi semua rumah sakit sedang dilakukan,” kata Ketua Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) Adib Yahya, Senin (7/7/2008) di Jakarta. Saat ini baru 40-50 persen dari total jumlah rumah sakit di Indonesia terakreditasi nasional. Unsur manajemen RS yang terkait akreditasi nasional, di antaranya, sistem administrasi RS, fasilitas pelayanan medis, keperawatan, dan manajemen keselamatan pasien.

”Kami targetkan, tahun 2009 mendatang, sekitar 75-80 persen seluruh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi standar nasional,” ujarnya. Untuk standardisasi, pemerintah sebatas memberi panduan dan mengakreditasi. Sementara itu, RS yang telah terakreditasi nasional diharapkan dapat meningkatkan mutunya agar mencapai standar internasional (joint commission international-JCI). ”Agar minat pasien luar negeri berobat ke Indonesia meningkat, kami akan mencanangkan pariwisata medis November nanti, seperti negara-negara tetangga,” ujarnya.

Kedepannya, insan medis Indonesia haruslah mengejar kemajuan teknologi bidang medis yang dimiliki negara tetangga. Untuk itu, tidaklah melulu dengan diperlukan biaya yang tinggi, dengan sedikit kreatifitas layanan kesehatan niscaya akan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, minimal masyarakat mendapatkan nilai efisiensi dalam usahanya mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas ditengah krisis yang makin menjerat.

Upaya perlindungan Tenaga Kerja Dalam Negeri

Selain berdampak makin maraknya pasien berobat ke luar negeri, AFTA 2010 juga bisa memicu meningkatnya migrasi petugas kesehatan, seperti para perawat ke negara-negara tetangga terutama Singapura dan Brunei Darussalam. ”Setiap petugas kesehatan berhak bermigrasi,” kata Mukti Reksoprojo, pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi). Termasuk juga tenaga medis asing yang berimigrasi ke Indonesia. Nantinya, dibutuhkan suatu mekanisme perlindungan tenaga medis dalam negeri untuk dapat bersaing secara sehat dengan banjirnya tenaga medis dari luar negeri.

Hal ini sepertinya telah disadari oleh Dinas Kesehatan di Surabaya. Dinas Kesehatan Kota Surabaya menghimbau agar tenaga medis di Kota tersebut berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya di bidang kesehatan. Sebab menjelang pemberlakuan pasar bebas tahun depan, tenaga asing dapat dengan bebas masuk dan praktek di kota pahlawan ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya, dr. Esty Martiana Rachmie mengatakan saat ini setidaknya ada tiga investor asing yang berminat masuk ke Kota Surabaya. Mereka berniat mendirikan Rumah Sakit serta pelayanan kesehatan di kota metropolis ini. Menurut dr. Esty, selama ini belum ada peraturan khusus yang mengatur keberadaan tenaga medis asing di Indonesia. Saringan atau screening awal tenaga asing yang bekerja di Indonesia hanya diatur di Departemen Kesehatan. “Seharusnya kalau masuk ke suatu daerah harus mengikuti Peraturan Daerah tersebut. Misalnya kepengurusan Surat Ijin Praktek, cakupan wilayah kerja dan lain-lain,” jelasnya.

Karena itu, untuk mengantisipasi membludaknya tenaga kesehatan asing yang masuk ke kota metropolis, Dinkes Kota Surabaya menyiapkan Perda, yaitu Perda Sistem Kesehatan Kota. dr. Esty berharap akhir tahun ini, Perda tersebut dapat digulirkan. Sehingga saat pasar bebas diberlakukan, Dinkes sudah siap menghadapinya.

Kota Surabaya telah memberikan pelajaran pada kita. Indonesia sebagai negara yang tidak menutup dirinya terhadap pergaulan dengan negara lain tetap harus mengantisipasi efek derasnya arus globalisasi terhadap rakyatnya sendiri. Karenanya, diperlukan suatu mekanisme yang mempu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bidang pelayanan kesehatan. Sehingga SDM yankes Indonesia mampu bersaing baik dengan tenaga asing yang masuk ke dalam negeri, maupun ketika mencoba peruntungan berpraktik di luar negeri. Karena saat ini bukan hanya AFTA yang di depan mata saja yang mampu menjadi tantangan (atau kalau mau dibilang, potensi) kita semua, tetapi juga tren Medical Tourism yang menuntut peningkatan kualitas yang signifikan dan komprehensif bagi tenaga kesehatan Indonesia. Masih belum terlambat bagi kita untuk memulai…

(Dibuat untuk Majalah Diagnostika, by LPM Diagnostika FK Univ. Brawijaya)