Mekanisme Firasat dan Penilaian Sesaat

(From BLINK! by Malcolm Gladwell)

Salah satu penulis favorit saya, dimana setiap judul bukunya selalu saya sukai bahkan sebelum tahu isinya tentang apa, selain Salim A. Fillah adalah Malcolm Gladwell. Seorang Afro-amerika yang cerdas, tatas dan bernas dalam menulis. Saya sendiri selalu terkejut dengan tema buku yang dia bahas. Sepertinya ia selalu mengangkat tema sepele namun unik dan memberikan efek besar, seperti Tipping Point contohnya. Salah satunya bukunya yang lain adalah BLINK!, yang sebentar lagi akan kita bahas. Buku ini menelusuri tentang firasat singkat kesan pertama, yang muncul maksimal 2 detik setelah kita melihat sesuatu.

Disadari atau tidak, kita memang seringkali memiliki penilaian general ketika bertemu seseorang, melihat suatu barang, atau mendapati suatu permasalahan, sebelum kita mengetahui detail persisnya mereka seperti apa. Apakah itu penilaian baik, buruk, aman atau berbahaya. Itulah yang disebut sebagai Thin Slicing (cuplikan tipis) dalam buku ini. Potongan kecil yang mewakili gambaran besar. Sebuah sampel.

Informasi yang mendasarinya didapat dari alam bawah sadar, sehingga tidak heran jika firasat ini sering diabaikan dan dianggap remeh. Akan tetapi, bukan berarti ia tidak bermakna. Hanya saja, informasi itu tertutup oleh suatu locked door yang membuatnya seolah tidak logis. Kemampuan penilaian ini merupakan suatu mekanisme pelindung yang sering menolong pemiliknya. Namun terkadang, ia dapat pula menjerumuskan kepada pilihan yang benar-benar salah.

Otak dapat diibaratkan seperti sebuah lemari arsip. Ia menerima begitu banyak informasi. Meski kapasitasnya sangat besar, otak tidak memasukkan seluruh informasi yang diterima ke dalam memori. Ada mekanisme prioritizing yang tercipta untuk melindungi otak dari serangan hang karena over-information. Mekanisme inilah yang menyortir ingatan menjadi penghuni alam sadar untuk informasi yang ‘siap pakai’, alam bawah sadar untuk informasi yang masih dibutuhkan tetapi jarang dikeluarkan, dan untuk dilupakan apabila dinilai tidak penting atau tidak terkait dengan informasi sebelumnya.

Alam sadar memuat informasi yang dapat di-recall ulang, seperti hapalan ujian, nama teman atau nomor teleponnya. Ia seperti data yang tersedia di rak lemari arsip yang siap diambil jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sedangkan alam bawah sadar memiliki kepasitas yang jauh lebih besar, tetapi terkunci di dalam laci lemarinya. Ia tidak dapat dikeluarkan meski dengan keinginan kita atau dipaksa. Akan tetapi, ia akan keluar dengan sendirinya ketika diperlukan. Informasi alam bawah sadar memiliki kaitan dengan informasi alam sadar, dan kunci itulah yang membuatnya naik ke permukaan dalam bentuk firasat ketika otak merasa membutuhkan informasi yang benar-benar penting. Keluarnya informasi ini tidak sistematis. Ia bersifat acak tergantung kepada informasi yang mana ia terkaitkan.

Randomnya cara pengambilan penilaian bawah sadar tersebut tidak menjadikan kemampuan thin slicing tidak bisa dilatih. Pengenalan yang mendalam terhadap medan atau karakteristik objek dapat membuat penilaian thin slicing semakin berarti dan masuk akal. Dengan melakukan banyak repetisi, firasat ini menjadi semakin sigap dan keluar di saat yang tepat. Serta antisipasi terhadap kemungkinan terburuk akan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Kemampuan firasat inilah yang mampu membedakan mana sang pakar dan yang amatiran. Kedalaman  pengetahuan si ahli selalu turut membantu penilaian, meski terkadang seolah kurang logis karena keluar dari alam tak sadar.

Thin Slicing biasanya hampir selalu benar dan mewakili gambaran besar. Akan tetapi, ada beberapa keadaan yang membuat cuplikan tipis ini menjadi benar-benar meleset. Rintangan Blink alias Thin Slicing seringkali disebabkan oleh prasangka, yaitu penilaian sadar yang dilekatkan kepada objek. Adanya kecenderungan, meski itu baik atau buruk, menutupi munculnya penilaian sejati yang dibimbing oleh alam bawah sadar.

Selain itu, waktu juga menjadi variabel penting yang menentukan ketepatan firasat. Timing yang terlalu cepat dalam mengambil penilaian dapat mengakibatkan informasi yang mestinya komprehensif menjadi berkurang. Sehingga penilaian menjadi kurang berarti karena tidak mewakili realitas. Namun, jeda yang terlalu lama juga dapat mengaburkan firasat. Adanya kecenderungan introspeksi dan penilaian ulang membuat thin slicing terdistorsi penilaian alam sadar, yang seringkali pragmatis dan menyesatkan.

Bagaimana cara mudah mengembangkan kemampuan Blink? Mudah saja. Tinggal mengatasi rintangan-rintangan yang menghalangi keluarnya thin slicing, antara lain adalah menetralkan prasangka. Biarkan intuisi (bukan perasaan!) yang menuntun penilaian dan pengambilan keputusan tanpa terlebih dahulu dirancukan dengan fakta. Alam sadar dipergunakan baru setelah kesimpulan lengkap diambil, yaitu untuk mencocokkan cuplikan tipis dengan gambaran besar, dan mengevaluasi bobot penilaian tersebut. Relevan atau tidak, benar atau menyesatkan.

Selain itu, perlu pengambilan jeda yang cukup untuk mengendapkan dan mengangkat informasi ke permukaan. Waktu yang terlalu singkat membuat otak menyortir informasi terlalu banyak, sedangkan jeda yang terlalu lama membuat terjebak dalam penilaian pragmatis. Sehingga perlu perkiraan timing yang tepat untuk mendapatkan penilaian yang optimal. Dan tentu saja memperkirakan timing ini tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat. Karenanya, perlu banyak pengulangan dan pembelajaran untuk dapat menjadi seorang ahli…

 

(Dibuat di tengah malam ketika besoknya akan ujian Obstetri-Ginekologi dan Farmakologi Klinik. Mohon maaf kalau bahasa atau idenya mbulet. Memang begitulah gaya Malcolm Gladwell dalam menulis. Perlu sedikit usaha mengerutkan dahi. Ah, sudahlah. Belajar lagi yuukkk…)

Gadis Periang yang Keibuan

24 Januari 2007

Sejak beberapa hari yang lalu, ada satu nomor asing yang mengirim sms meminta ditelpon. Siapa sih?, pikirku sambil bete. Habis, teter banget sih. Jadinya selama beberapa hari lamanya gak tak reken. Biarin, wong gak kenal kok. Tapi lama-kelamaan kok jadi penasaran juga, ya? Siapa sih yang segitu getolnya?

Sambil cemberut kutelpon dia. Aku kaget banget! Ternyata dia adalah Yus. Wah, girang banget hatiku. Aku kangen banget sama dia. Suaranya membuka kembali memori kami di SMA di kelas 3.

Saat itu, kami yang sama-sama masih belia. Waktu itu kami sama-sama naksir seorang cowok. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa nilai orang itu di mataku sangat tidak sebanding dengan keberadaan Yus di hatiku. Itulah yang membantuku untuk melupakan cinta monyetku itu.

Yus, aku tidak pernah merasakan kenanganku bersamamu terasa ada yang pahit. Ya, tidak ada yang pahit sama sekali ketika kuingat kau. Kenapa ya? Apa karena begitu emasnya hatimu?

Yus yang kukenal adalah gadis yang periang, kecacalan/gak bisa diam, perasa, lembut, bijaksana, keibuan, penyabar, baik hati, religius, birrul walidainnya OK buaaangetz, tilawahnya juga dahsyat, agak cengeng, imut-imut, pinter, tekun, dedikasinya OK, visioner yang baik (wartel di rumahnya itu kan ide dan uangnya dia!), selalu mengutamakan khusnudzon, menyenangkan jika dipandang, dan banyak kenangan lain yang tidak bisa aku lupakan tentang dia.

Dia juga tidak sombong. Setelah dihitung-hitung, dia itu memiliki begitu banyak kelebihan. Tetapi herannya aku tidak merasa iri atau tersaingi olehnya. Seolah-olah kebaikan-kebaikan dia itu muncul bukan atas promosi dia sendiri, tetapi karena Allah-lah yang mengizinkan dan mengekspos itu, tanpa keinginan dari Yus sendiri.

Subhanallah, Yus… belum ketemu aja kamu udah memberikan aku begitu banyak pelajaran. Jadi kaulah orang itu. Orang yang katanya mbak-mbak mentor, jika kita melihatnya, maka kita akan semakin termotivasi untuk berbuat lebih baik lagi. Tatapannya saja sudah mengevaluasi kita, membuat kita teringat dengan dosa-dosa kita. Ukhtifillahi, aku cinta padamu…