Gadis Periang yang Keibuan

24 Januari 2007

Sejak beberapa hari yang lalu, ada satu nomor asing yang mengirim sms meminta ditelpon. Siapa sih?, pikirku sambil bete. Habis, teter banget sih. Jadinya selama beberapa hari lamanya gak tak reken. Biarin, wong gak kenal kok. Tapi lama-kelamaan kok jadi penasaran juga, ya? Siapa sih yang segitu getolnya?

Sambil cemberut kutelpon dia. Aku kaget banget! Ternyata dia adalah Yus. Wah, girang banget hatiku. Aku kangen banget sama dia. Suaranya membuka kembali memori kami di SMA di kelas 3.

Saat itu, kami yang sama-sama masih belia. Waktu itu kami sama-sama naksir seorang cowok. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa nilai orang itu di mataku sangat tidak sebanding dengan keberadaan Yus di hatiku. Itulah yang membantuku untuk melupakan cinta monyetku itu.

Yus, aku tidak pernah merasakan kenanganku bersamamu terasa ada yang pahit. Ya, tidak ada yang pahit sama sekali ketika kuingat kau. Kenapa ya? Apa karena begitu emasnya hatimu?

Yus yang kukenal adalah gadis yang periang, kecacalan/gak bisa diam, perasa, lembut, bijaksana, keibuan, penyabar, baik hati, religius, birrul walidainnya OK buaaangetz, tilawahnya juga dahsyat, agak cengeng, imut-imut, pinter, tekun, dedikasinya OK, visioner yang baik (wartel di rumahnya itu kan ide dan uangnya dia!), selalu mengutamakan khusnudzon, menyenangkan jika dipandang, dan banyak kenangan lain yang tidak bisa aku lupakan tentang dia.

Dia juga tidak sombong. Setelah dihitung-hitung, dia itu memiliki begitu banyak kelebihan. Tetapi herannya aku tidak merasa iri atau tersaingi olehnya. Seolah-olah kebaikan-kebaikan dia itu muncul bukan atas promosi dia sendiri, tetapi karena Allah-lah yang mengizinkan dan mengekspos itu, tanpa keinginan dari Yus sendiri.

Subhanallah, Yus… belum ketemu aja kamu udah memberikan aku begitu banyak pelajaran. Jadi kaulah orang itu. Orang yang katanya mbak-mbak mentor, jika kita melihatnya, maka kita akan semakin termotivasi untuk berbuat lebih baik lagi. Tatapannya saja sudah mengevaluasi kita, membuat kita teringat dengan dosa-dosa kita. Ukhtifillahi, aku cinta padamu…

Tulis sebuah Komentar