| Nggak enaknya adalah, setahuku Allah biasanya mempertemukan lagi dengan orang-orang yang kepadanya kita berhutang, supaya kita melunasinya dan menjadi lebih dewasa. Kapankah saat itu tiba? Apakah saat itu aku telah berubah atau sama saja? |
6 orang dengan kemampuan istimewa yang berbeda terjebak dalam suatu labirin kubus, yang mengandung jebakanmaut. Kazan, Holloway, Krahn, Kraven, seorang maling (maybe, coz just a cameo) dan seorang polisi yang lupa namanya, bersama-sama berjuang mencari jalan keluar dari siksaan tersebut, sebelum mereka benar-benar mati. Ternyata, labirin itu bisa dipecahkan oleh Kraven dengan hitungan matematis dengan prinsip Descartes. Sampai akhirnya mereka tiba di tepi sangkar, dan mencoba meloloskan diri.
Namun ternyata si polisi membuang Holloway, si dokter wanita. Karakter si polisi yang arogan dan kejam akhirnya muncul juga dalam keterdesakan, setelah tadinya terlihat sebagai sosok yang melindungi dan memimpin. Sampai iapun bermaksud menjadikan Kazan, si pemuda retardasi mental sebagai tumbal jebakan.
Akan tetapi ternyata Kazan mampu memecahkan kode bilangan prima menjadi penanda akan adanya berupa-rupa jebakan, yang telah membunuh si maling yang ahli meloloskan diri tersebut. Berkali-kali mereka harus menghadapi mulai dari jebakan yang dipicu oleh suara, jebakan api, air keras, dan sebagainya.
Ternyata, sangkar itu tidak statis. Ia bergerak secara permutasi (masyaAllah, matematika banget! Kalo bukan anak IPA, mutung kali liat ni film…) dari pintu masuk yang menjerumuskan mereka, sampai akhirnya nanti kembali ke pintu tersebut. Jadi seharusnya mereka tidak bergerak ke mana-mana! Hal tersebut akhirnya diketahui oleh tim tersebut, akan tetapi ambisi si polisi yang bermaksud menjebak semua orang selain Kraven, siswi SMA jenius yang ditaksirnya, membuatnya harus disingkirkan tim.
Jadilah Kraven, Krahn dan Kazan meneruskan perjalanan, sampai akhirnya mereka temukan pintu keluar itu. Belum sempat mereka keluar ke dunia bebas, ternyata si polisi muncul dan membunuh Kraven dan Krahn. Ia bermaksud mencelakai Kazan pula, akan tetapi berhasil dihalangi oleh Krahn dalam sekaratnya, dan si polisi itupun mati. Dan Kazan yang memiliki kejeniusan dibalik keterbelakangan mentalnya itupun bebas ke dunia luar yang bodoh itu.
Cube, yang awalnya aku kurang respek karena sepertinya film yang sezaman dengan Pretty Woman dan Ghost (1990an, masih agak burek gitu gambarnya) ternyata mampu memberikan kejutan keren dalam konflik dan intriknya. Yah, lumayan bergaya modern lah. Makanya kuduga sekitar 90-an. Kalo lebih tua dari itu, biasanya produksi film AS masih ngglethek,konyol dan kurang menantang. Special effect-nya pun lumayan meyakinkan. Dan alur ceritanya juga seru dan bersifat scientific. Tetapi rasanya, syuting film ini tidak pernah keluar dari ruang kubus 14x14x14 feetcubic berwarna-warni yang berpintu 6 itu. Gak papa… Menjadikan film science-thriller itu seharusnya jadi hemat biaya. Cuman membangun ruangan cubic doang, yato?
Dalam jebakan, atau keterjepitan, atau kemendesakan, karakter seseorang akan kelihatan. Yang licik, akan mencari cara untuk untung sendiri. Yang oportunis akan memanfaatkan kawan menjadi tumbal. Yang pesimis hanya akan menjadi beban dan penghalang seluruh tim. Hanya yang memiliki kebeningan hati sejati yang mampu bertahan dengan prinsipnya, tak goyang diguncang tekanan jiwa akibat ancaman nyawa seperti itu.
Let’s valuing ourself. Apa yang akan terjadi ketika kita terdesak dalam situasi menyancam nyawa? Karakter apa yang kita munculkan? Nggak enaknya adalah, setahuku Allah biasanya mempertemukan lagi dengan orang-orang yang kepadanya kita berhutang, dalam arti kita pernah menyakitinya atau menguras kepercayaannya. Supaya kita melunasi hutang itu dan menjadi lebih dewasa. Kapankah saat itu tiba? Apakah saat itu aku telah berubah atau sama saja?
Hmm… melihat si polisi di Cube membuatku teringat dengan momen-momen pedih dimana karakter burukku keluar. Dengan kebodohan dan kekanakanku saat itu. Tetapi di film lain, Avatar the Legend of Aang, ada nasihat dari seorang Guru untuk Aang sang pembawa kedamaian 4 negara, “Kau takkan dapat memberi efek positif pada dunia sebelum kau memaafkan dirimu sendiri.” Saatnya memberikan waktu untuk diri sendiri menyembuhkan lukanya, memperbaiki kerusakan dan lahir lagi dengan pribadi yang baru. Terkadang kita memang perlu memberikan kesempatan pada waktu dan takdir untuk menyelesaikan permasalahan…