27 Desember 2009
Aku menyaksikan serial Queen Seon Deok yang tayang di Indosiar pukul 17.00-18.30 setiap Senin-Jumat itu, baru secara serius pada episode sekitar 24-an. Entah, aku lupa berapa tepatnya. Kira-kira ketika Putri Cheon Myeong terpanah racun oleh Hwarang Dae Nam Bo. Lalu Hwarang Al Cheon meminta keadilan untuk kematian junjungannya itu dengan mewarnai wajahnya dan berniat harakiri ala Korea.
Kemudian, aku mengikuti episode-episode berikutnya, yang memperkenalkan aku dengan sang tokoh utama Deok Man, si penakluk pria Lady Mi Shil, hwarang pejuang yang jujur Kim Yu Shin, dan pendekar pedang eksentrik Bi Dam. Gara-gara penasaran dengan keberhasilan strategi Deok Man mengangkat dirinya menjadi putri Silla, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang pada zaman tersebut (sekitar 500an Sebelum Masehi) masih menjadi gunung tinggi berselimut halimun takhayul.
Kalau kekuatan serial ini berasal dari pemain watak Go Hyeon Jeong yang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik berkat peran Mi Shil yang sangat sukses itu, aku sendiri sungguh terpikat oleh akting Kim Nam Gil yang berhasil menghidupkan tokoh Bi Dam. Berganti-ganti dari karakter pemuda yang kekanak-kanakan dan menyenangkan, pendekar pedang yang tangguh, pasien kejiwaan yang terluka, dan pria oportunistik yang dingin dan kejam. Aku setengah tidak percaya akan adanya campuran karakter seperti ini di kehidupan nyata. Betapa berlawanannya! Tetapi, apa sih yang musykil di dunia yang crowded ini…
Awalnya aku hanya mengharap mendapatkan ilmu politik, militer, ekonomi moneter, ekonomi sektor riil, administrasi dan tata negara yang tersirat secara sederhana namun real di serial itu. Bagiku, menyaksikan sepak terjang memperebutkan kepemimpinan sangatlah menarik. Menemui kenyataan bahwa semua tokoh, bahkan yang protagonispun melakukan kecurangan (yeah, that’s politic!), menghilangkan kebosanan akan trend lawas yang dianut sinetron, bahwa tokoh utama adalah yang selalu benar secara mutlak. Huh, klise!
Seperti halnya Nabi Muhammad yang terasah kepemimpinan dan kenabiannya di ladang penggembalaan kabilah pedalaman Arab dan perdagangan Syam. Seperti itu juga Deok Man yang tertempa menjadi ratu yang tangguh oleh lingkungan gurun Taklamakan dan dalam penyamarannya menjadi laki-laki serta menyelundup menjadi prajurit.
Orang-orang besar berasal dari orang-orang kecil yang dipersiapkan secara khusus, tetapi tidak mencolok, oleh alam dan lingkungan. Ketika saatnya tiba, ia akan muncul untuk menciptakan pembaharuan, membebaskan dari penjajahan, menemukan wilayah baru, membuka tabir kebodohan, dan atau memberikan pengetahuan.
Semua orang (baik orang kecil dan orang besar) akan mengalami rintangan. Akan tetapi hanya orang yang berhasil melampauinya dengan baik lah yang dengan indah akan tercatat emas dalam sejarah. Seperti kata Bi Dam,”Orang yang berhasil menaklukkan pemberontakanku harus dikenang oleh sejarah.” Dan rakyat Korea kini mengenang Jendral Kim Yu Shin sebagai orang yang mengabdi kepada 4 penguasa berturut-turut (Queen Seon Deok, Queen Jin Deok, King Chun Chu dan King Munmu), yang berhasil menumpas pemberontakan dan menyatukan 3 kerajaan Goguryeo, Baekje dan Silla. Dialah sang pahlawan itu.