(Written for 13 Juni 2009)Tanya :
Mba Aya, saya mahasiswi semester 4. Saat ini saya dimintai tolong seorang teman saya untuk mencarikan dia pacar. Sebenernya, hal ini terjadi karena dia sedang dikejar-kejar dan sering digoda oleh beberapa orang teman laki-laki di kelasnya. Dan dia sendiri, karena orangnya lembut dan kalem, jadinya nggak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa nangis di belakang. Terus, dia juga melihat teman-teman di sekitarnya yang sudah punya pacar, dia jadi kepingin juga dilindungi dan disayangi seseorang. Saat ini, dia sering sekali merasa gundah dan sedih karena memikirkan keinginannya itu. Sepertinya, level emosi dia sedang tinggi. Dia juga berpikir kalau dia tidak laku karena nggak punya-punya pacar. Karena kasihan, maka saya menyanggupi akan mendapatkan salah seorang teman saya menjadi pacarnya. Menurut mbak, apakah itu salah atau tidak pantas? Mohon jawaban yang jelas. Terima kasih. Wassalamu’alaikum.
(Nita, Malang)
Jawab :
Assalamu’alaikum warahmatuLlahi wabarakatuh. Wah, senang sekali mendengar ada seorang teman sebaik dik Nita yang peduli kepada masalah sahabatnya. Niatan awal ini saja sudah sangat baik untuk menjadi suatu amalan. Tetapi, dalam memberikan solusi kepada dik Yuni (sementara kita panggil saja teman anda seperti itu ya), harus ditelusuri lagi manfaat dan mudharatnya.
Dik Nita yang manis, di usia mahasiswa semester 4 seperti adik, adalah usia yang sebenernya sudah siap nikah. Siap secara fisik, hukum dan agama. Karenanya, sangat normal kalau di usia ini dik Yuni merasa membutuhkan seseorang untuk dijadikan sandaran dan berlindung dari gangguan, terutama godaan teman-teman lelakinya.
Tetapi, dalam kasus ini, apabila dik Nita menyelesaikan masalah dik Yuni dengan mencarikannya pacar, itu adalah solusi yang sangat tidak tepat. Mengapa? Karena PACAR adalah sandaran yang sangat labil. Komitmennya hanya komitmen di mulut saja. Hari ini bilang, “Aku cinta padamu. Kita jadian yuk?” dan besok bisa saja dia bilang,”Aku sudah tidak cinta lagi. Kita putus yuk?”. Dan dengan MUDAH, tanpa ada pertanggung jawaban sama sekali. Tentu saja, karena pacaran bukanlah apa-apa.
Coba adik bandingkan dengan ijab kabul pernikahan. Ikrarnya mengikat langit dan bumi. Di bumi disaksikan manusia dan dipertanggung jawabkan, serta di langit mampu mengguncangkan ‘Arsy Allah swt. Ikatannya sangat kuat. Dan barang siapa sudah mengikrarkan, sangat sulit memutusnya. Nggak seperti pacaran yang semu itu. Dan akibat ikrar yang berat itu, seorang suami harus menerima istrinya apa adanya satu paket, baik sisi positif yang menyenangkan, termasuk juga sisi negatif yang bikin sebel. Dan demikian juga istri. Tapi kalo pacaran nggak begitu. Mereka hanya tahu sisi baiknya saja. Sedangkan sisi negatif kita, akan ditutupi serapatnya. Gengsi dong ketauan pacar kalo kita tidur ngiler. Sedangkan jika hidup berumah tangga, ‘aib’ yang lebih jelek dari itu pun pasangan kita tahu dan harus menerima.
Karenanya, kalau adik berpikir dengan mencarikannya pacar akan membuat perasaannya lebih baik, itu salah. Ini hanya akan memberinya masalah di hari depan. Mungkin sekarang dia akan senang karena ada yang melindungi dia. Tetapi karena ikatan yang tidak kuat itu, dia akan menemukan banyak masalah. Ketidak setiaan, kebosanan, angin-anginan, meu enaknya aja, tidak bertanggung jawab, minta yang ‘aneh-aneh’, bahkan sampai putus yang dramatis. Dan ini hanya akan memperburuk emosionalnya.
Dan sesungguhnya, CINTA bukanlah suatu aib yang harus ditakuti. Karena ia adalah ciptaan Allah yang mampu membuat umat manusia tetap lestari. Tetapi, cinta membutuhkan suatu pertanggung jawaban yang sangat berat. Kalau dia disalah gunakan, yang ada hanyalah bencana. MBA (Married By Accident) dan kehamilan di luar nikah hanyalah beberapa contoh bencana yang mengatasnamakan cinta. Sehingga, pacaran bukanlah sarana penyaluran cinta yang tepat. Ia hanya akan menjadi sarana syaithan untuk menjerumuskan manusia ke lembah bencana.
Ibarat berpuasa, kenikmatannya terletak dalam penantian dan kemudian berbuka. Segala makanan dan minuman terasa enak. Dan dalam hal ini, dik Yuni jangan asal nyari ‘jodoh’ untuk menghindari tuduhan nggak laku itu. Pasti di suatu tempat di sana, Allah sudah menyiapkan jodoh yang tepat buat dik Yuni. Dan kualitas si dia, itu sangat tergantung dengan kualitas dik Yuni. Hal ini harus disadari betul, karena ia tertera di Al-Qur’an yang Mulia.
Sehingga, dalam masa penantian, dik Yuni sebaiknya meningkatkan kualitas diri di berbagai bidang, terutama dalam hal keimanan. Karena orang yang pinter naksirnya sama orang pinter dan orang yang sholeh pasti naksirnya sama wanita sholeha. Itu manusiawi. Sehingga kalau dik Yuni menanti sambil hanya ongkang-ongkang kaki, kualitas jodoh dik Yuni yang datang itu ya sepadan dengan keadaan dik Yuni. Tapi kalau dalam masa penantian jodoh itu dik Yuni isi dengan acara meningkatkan kualitas diri, ikut kajian, memperbaiki akhlaq dan penampilan, de-el-el, de-es-be, pasti yang datang adalah seseorang yang berkualitas pula. Pastinya, jodoh yang diinginkan yang sholeh kan?
Dan tentang keinginannya dicarikan pacar untuk berlindung dari gangguan cowok, kalau Mba yang jadi temannya, mba nggak akan mencarikan dia pacar. Tapi mba akan membuat dia mandiri dan sanggup berdiri di atas kakinya sendiri. Karena, dengan mendidiknya menjadi manusia seutuhnya, kita pun akan mendapatkan pahala karena telah membantu mengembangkan dia. Menjadikan dia manusia yang berani mengatakan tidak dan membela kebenaran serta haknya. Bagaimana caranya?
Caranya, dik Nita bantu dia menumbuhkan kepercayaan dirinya. Prinsipnya, sebelum ada percaya diri (PD), pasti ada percaya Allah (PA) dulu. Lho kok bisa? Iya, karena ketika kita percaya Allah, percaya bahwa tidak ada sesuatu hal pun yang terjadi tanpa izin-Nya dan seluruh makhluk di muka bumi ini adalah di bawah kekuasaan-Nya, maka kita tidak akan pernah takut lagi dengan siapa pun, kecuali pada Allah yang Maha Merajai. Andaikan kita berjalan di dalam suatu medan perang, di bawah desingan peluru nyasar, kalau peluru itu tidak ditakdirkan mengenai kita, maka kita tidak akan tergores sedikitpun.
Pun ketika kita bertemu dengan seseorang yang sangat kita takuti karena dia selalu menghina dan meremehkan kita, kalau kita percaya Allah (PA), maka kita akan percaya bahwa Allah sangat punya kuasa untuk membolak-balikkan hati orang itu sehingga berbalik menjadi segan dan merasakan kewibawaan kita. Allah sanggup melakukan hal tersebut, dan kenapa kita harut takut pada orang itu? Sikap orang itu hanyalah bagian dari takdir Allah, dan karena kita percaya Allah, santai saja. Allah tak akan menyia-nyiakan kita. Yakin deh!
Nah, contoh PA di atas adalah dasar dari kepercayaan diri. Sebelum Pe-De, aqidah harus bener dulu. Tetapi dalam tataran teknis, dik Yuni harus memperkuat KEMAUAN. Itu prinsip kedua dalam kepercayaan diri. Dik Yuni harus berani mengatakan kebenaran dan membela haknya. Tidak perlu takut sebenernya, karena orang-orang yang dik Yuni takuti karena hobi nggodain dik Yuni itu pun manusia juga, makhluknya Allah juga, yang sepenuhnya dalam genggaman kekuasaan Allah. Serahkan saja takdir pada Allah, dan nggak usah takut dalam membela kebenaran.
Tetapi, dalam prinsip ketiga, dalam bersosialisasi ada unsur yang tidak boleh dilupakan. Jangan sampai kepercayaan diri kita malah menekan dan memberangus orang lain. Kita tetap harus menjaga harmoni dengan mereka. Karenanya, dalam mengungkapkan perasaan dan keinginan, kita harus tetap pertimbangkan perasaan mereka.
Sehingga, dalam menyelesaikan masalah teman-teman pria dik Yuni yang nakal, dik Nita musti bantu dik Yuni agar PERCAYA ALLAH, memperkuat KEMAUAN, dan tetap menjaga HARMONI. Kalo Mba bayangkan, mungkin dik Yuni bisa katakan langsung di depan mereka, “Teman-teman, sebenarnya aku merasa terganggu dengan sikap kalian ini. Aku ingin berteman dengan kalian, tapi kalau diperlakukan begini aku malah jadi nggak suka. Gimana kalau kalian tidak usah begini, sehingga kita bisa berteman dan saling membantu ketika membutuhkan? Enak kan?” InsyaAllah, dengan bantuan Allah, teman-teman tadi akan luluh dan nggak ganggu dik Yuni lagi. Karena sebenarnya, mereka mengganggu itu ada beberapa kemungkinan. Bisa saja mereka merasa dik Yuni mudah dipermainkan, atau malah sebenarnya mereka ingin berteman dengan dik Yuni tetapi bingung mau memulai dari mana. Dengan mengatakan apa yang ada di hati dik Yuni, mereka mendapatkan gambaran kepribadian yang tidak mudah dipermainkan, tetapi juga tidak tertutup.
Semoga usaha dik Nita untuk membantu dik Yuni bisa lancar. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.