Advokasi Pasien Abses Otak (Part 1)

Bapaknya ukhti Dwi masuk RSP, diduga mengalami stroke penyumbatan dan akan dirujuk ke RSSA untuk CT Scan. Antum agenda kosong? Kalau iya, dimohon menemani ukh Dwi untuk membantunya”

Begitulah kira-kira SMS temanku, yang mau tidak mau membuatku terkejut. Bapaknya Dwi? Kok kayaknya tadinya baik-baik saja? Tapi sudahlah. Segera kuselesaikan urusan presentasi Monev PKM-ku untuk untuk dapat segera menemui mereka di RSP.

Dwi adalah salah satu sahabatku. Kami dan beberapa teman lainnya menjalani peran sebagai aktivis dakwah sekolah. Karena seringnya kami bertemu, kami menjadi akrab. Kami sering bagi berbagai cerita tentang keluarga, cita-cita, kehidupan dan sampai cinta. Hehe…

Sesampainya di RSP sana, aku bertemu juga dengan Nana. Nasi kotak yang kubawa dari Monev tadi kami bancak bersama, sambil membicarakan tentang penyakit bapak Dwi. Sebenarnya ketika aku membaca SMS di atas, aku merasa ragu saja. Apa benar bapak Dwi butuh CT Scan? Apakah itu benar-benar diperlukan? Takutnya, CT Scan itu hanyalah upaya ‘bisnis’ antara dokter dengan bagian CT Scan-nya. Bukan berprasangka, tetapi dosenku dari bidang Radiologi sendiri yang bilang begitu. Kan jadi rada parno tuh…

“CT Scan? Kata dokter emangnya bapak sakit apa Ukh?”

“Denger-denger sih penyumbatan gitu katanya.”

“Emang harus disuruh CT ya?”

“Lha ya itu Ukh. Ana dan ibu kan ngga tau apa-apa to. Sedangkan antum kan jauh lebih tahu dari kami. Makanya, kami berharap agar setidaknya antum mendampingi kami, gitu lho.”
itu saja sudah cukup bagiku untuk menekadkan diri mengadvokasi keluarga sahabatku ini. Meskipun ilmuku sederhana dan pengalamanku seadanya, tetapi aku merasa harus mendampingi keluarga itu. Lagian, lumayan kan dapet ilmu gratisan. Kapan lagi bisa ikut memonitor kesehatan pasien dengan begini leluasa?

“Gejala bapak apa aja?”

“Sakit kepala berat dan tensinya 150/… (lupa).”

“Ada tanda kelemahan tubuh gitu ngga? Kayak jadi ngelimprek, gak bisa jalan, kesemutan, dll? Atau kesadaran yang menurun?”

“Nggak tuh…”

Ha? Cuman Hipertensi tanpa ada tanda defisit neurologis? Gitu doang mau di CT? Gak salah?

“Terus dikasi obat apa aja?”

“Sejenis captopril (penurun tekanan darah), ranitidin sama vitamin B complex.”

Ranitidin? Itu kan buat obat tukak lambung?

“Ukh, CT Scan tu termasuk ga murah lho. Dan setau ana, kalo cuman hipertensi gitu doang mah ga usah CT. kasi aja penurun tekanan darah. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Gimana kalau kita tanya aja ke mereka kenapa kok harus di CT Scan. Biar lebih jelas alasannya ”

“Tapi…”

“Halah, ga papa kok, tak temenin.”

**** Prinsip Etika Kedokteran Poin Pertama (RESPECT OF THE AUTONOMY, Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui serta memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya, sehingga perlu di berikan informasi yang cukup) dan Poin Kedua (PRINCIPLE OF VERACITY, Dokter hendaknya mengatakan secara jujur apa yang sebenarnya terjadi, apa yang akan dilakukan serta resiko yang dapat terjadi) ****

Jadilah aku mengantar Dwi ke ruang perawat, karena sore itu sang dokter spesialis sudah tidak di tempat. Berbasa-basi sedikit dengan mas-mas perawatnya, aku mendapat kesan kalau investigasi ini tidak akan sulit.

“Mas, saya kan keluarganya pak Darmanto. Beliau katanya dirujuk ke RSSA untuk di CT Scanya mas? Sakitnya apa to kok pake gituan?”

Aku berusaha sok bodo aja. Dan mereka menyinggung adanya dugaan tumor otak. HAH?!?!? Gak salah? Gak boleh sembarangan lo bilang suspect tumor otak. Ia harus memenuhi beberapa kriteria proses desak ruang, seperti sakit kepala berat, mual-muntah proyektil, papil edema, dan defisit neurologis fokal. Tapi Dwi ngga pernah mengeluhkan itu padaku.

“Memangnya, bapak Man kenapa pak kok bisa diduga begitu? Oh iya, boleh lihat statusnya mas?” Nekat aja. Ternyata dibolehin. Dan saat itu pula aku sadar, adanya hemiparesis kaki kiri, papil edema +1, sakit kepala yang sering dikeluhkan bapak, dan setelah kembali ke kamar bapak, aku mendengar bapak muntah. Aku jadi merinding sendiri.

“Ukh, sepertinya benar deh, bapak ada gejala tumor di otaknya”

“Hah??” Ukhti Dwi pucat pasi.

BERSAMBUNG…

PERTIMBANGAN MEMILIH SPESIALISASI

Selasa, 14 Oktober 200…

Suatu hari, aku menemukan data pdf yang berjudul “The Ultimate Guide to Choose Medical Specialty” pada flashdisk seorang temanku, Akh ****. Waw, dia update juga, ya? Buku itu bercerita tentang bagaimana cara seorang dokter umum menentukan pilihan studi Dokter Spesialisnya. Wah, bagiku, ini passs buanget. Selama ini, yang menjadi keinginanku adalah menjadi dokter spesialis bedah. Karena, mungkin aku terlalu banyak input informasi yang kurang berimbang kali ya? Aku pernah baca buku Komplikasi karangan Atul Gawande, dan serial yang pernah kutonton adalah Team Medical Dragon, dimana tokoh-tokoh utamanya adalah seorang dokter bedah. Jadi, boleh dikata, impianku itu masih kekanakan, karena belum didukung data yang akurat dan lengkap tentang minat dan kemampuanku. Hanya satu perspektif saja.
Nah, adanya buku ini membuat aku mengerti akan pentingnya mempersiapkan penentuan pilihan spesialisasi kedokteran. Kenapa penting? Karena tepatnya pilihan spesialisasi akan menjadikan sang dokter lebih bahagia dalam menjalani profesinya, dan menjadi dokter yang lebih baik bagi pasiennya.
10 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan spesialisasi :

  1. Apakah suka yang generalis (mempelajari ilmu yang luas, ex. Internist, surgery, pediatrician, family practice), spesialis (mempelajari ilmu yang dalam, ex. Obgyn, ophthalmology, otolaryngology) atau yang supportive (membantu generalis dan spesialis, ex. Anastesiologi, pathology, radiology)
  2. Apakah mencintai dasar ilmu yang menjadi fondasi utama spesialisasi tersebut, dan tertarik dengan perubahan informasinya
  3. Apakah cenderung suka berinteraksi dengan pasien yang banyak dan erat (internal medicine, family practice) atau yang banyak namun sambil lalu (surgery, emergency medicine). Yang rela berkotor-kotor (surgery, obgyn) atau yang lebih bersih (psychiatry, ophthalmology). Yang areanya terfokus (urology, orthopaedics), yang intensitas bertemu pasien relatif sedikit (radiology, pathology), dll.
  4. Apakah mempu bertahan menghadapi tipe pasien yang akan ditemui, ex. Dokter Emergensi menghadapi pasien yang seringkali marah dan menuntut perawatan padahal tidak darurat. Dokter anak menghadapi orang tua yang menuntut. Dokter onkologi menghadapi progress perbaikan penyakit mematikan pasien yang sangat sedikit dibandingkan usaha yang sangat agresif.
  5. Pilihlah spesialisasi yang membuat anda bahagia disana. Tidak peduli apa kata keluarga, kolegadan orang lain tentang pilihan itu. Ingatlah, bahwa setiap spesialisasi dokter memiliki peran yang sama penting dalam mendukung kerja besar membangun kesehatan. Dan ide bahwa spesialisasi tertentu memiliki prestise dan kehormatan yang lebih dari yang lain hanyalah opini personal saja.
  6. Pertimbangan lifestyle akibat dari resiko profesi yang akan diambil. Dunia kedokteran adalah dunia yang menuntut banyak. Telepon tengah malam yang membutuhkan kelahiran Caesar atau operasi apendiks, berkurangnya otonomi dalam manajemen perawatan, atau meningkatnya laporan dan ancaman penyidangan malpraktik. Setiap spesialisasi memiliki resiko yang khas dan berbeda, dan itu tergantung bagaimana hidup yang diinginkan oleh si calon spesialis.
  7. Panjangnya waktu residensi. Sadarilah bahwa beberapa spesialisasi membutuhkan waktu pelatihan yang lebih panjang dari yang lain. Semakin spesisifik pendidikan yang anda ambil, maka semakin lama waktu yang anda butuhkan. Anda sangat mungkin untuk selamanya menjadi pelajar! Tetapi kenyataan ini n bukan berarti anda harus memilih pendidikan spesialisasi yang perdurasi pendek hanya agar dapat segera menikmati hasil. Anda tentunya tidak ingin salah jurusan, kan?
  8. Kompetisi memasuki pendidikan spesialisasi tertentu. Karena sebenarnya untuk memasuki suatu pendidikan spesialisasi, para calon siswa harus menghadapi persaingan dengan teman sejawatnya yang lain. Anda pun harus menyadari seberapa besar kesempatan anda dalam memasuki spesialisasi yang anda inginkan. Sayangnya, meskipun dalam hati anda telah bertekad untuk menjadi dokter spesialis bedah atau penyakit dalam, anda belum tentu dapat mencapainya. Dan seorang dokter tidak boleh hanya terpaku, “Saya orangnya hanya cocok di spesialisasi anak”, atau malah,”Saya tidak akan pernah masuk ke radiologi karena tempat saya bukan di situ.”
  9. Masa depan pendapatan dan potensi konsumsi. Masih belum ada data untuk gaji standar dokter spesialis tertentu di Indonesia. Dan pajak juga harus menjadi pertimbangan.
  10. Kesempatan kerja. Begitu banyak informasi tentang spesialisasi yang ‘basah’ maupun ‘kering’, tidaklah menjadi bahan pertimbangan utama seseorang untuk masuk ke suatu spesialisasi. Setiap spesialisasi memang memiliki masa kejayaannya masing-masing. Tetapi jika anda hanya mengikuti trend terkini untuk menjadi spesialisasi, anda hanya akan menyiksa diri anda pada pekerjaan yang tidak anda cintai. Dan sebenarnya, mau bagaimanapun seorang dokter, apa anda pernah mendengar ada dokter yang kelaparan karena kekuarangan uang?
    Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, semoga para kolega yang hendak meneruskan jenjang pendidikannya ke program spesialis dapat sedikit terbantu. OK, sodara… GOOD LUCK!!!

UTS Radiologi (ulangan)

Nha, kalo yang seru hari ini nih. UTS RADIOLOGI. 2 SKS, 6 topik kuliah dengan bahan yang buaaaannyak banget!! Dasar Aya hobinya SKS, teteup aja dengan cara seperti ini. Akibatnya, tau ndiri deh. Padahal Aya belajar sejak j5 sore, terus tidur bentar j8-11, dan belajar lagi sampe j1.30. Tapi yang ada malah hafalan Aya kecampur semuanya. Jadi bingung, schwarte tuh disebabkan oleh apa ya? Hemothorax, pneumonia, atau apa lagi itu?

Mana selain itu, Aya pake telat lagi. Hiieh..

Ayo Aya!!! Gak boleh menyerah. Inget, kamu adalah orang yang telah diberi kepercayaan olleh Allah untuk menanggung beban berat. Jangan sampai kamu berangkat perang nanti tanpa bekal sama sekali.

Relakah dirimu

Menyertai segolongan orang

Mereka membawa bekal

Sedangkan tanganmu hampa…

(Kematian, Suara Persaudaraan)

UTS Patologi Anatomi 4

Tanggal 14 kemaren, Aya ujian PA4, tentang syaraf, infeksi dan imunologi tumor. Belajarnya? Heheu, biasalah SKS. Untungnya, si PA ini cuman 1 SKS, jadi ngebut-ngebut juga insyaAllah masih bisa ngompensasi. Deu, sombong… Enggak, ini cuma untuk evaluasi aja kok.

Strategi Ngerjakan Tugas Pribadi

(Terstruktur, Makalah, Seminar, dll)

(dengan deadline seminggu)

Strategi 1246

Hari 1

Hari diberikannya tugas tersebut. Cari kata kunci yang akan menjadi obyek tersebut. Biasanya dengan membaca textbook/diktat tentang topik yang bersangkutan, bisa didapatkan beberapa kata kunci yang membantu. Kadang-kadang handout juga membantu, tapi jarang sih…

Selain cari kata kunci, ada hal yang harus diperhatikan supaya tugas kita tuh keren dan sistematis, yaitu menyusun kerangka. Ini penting supaya kita (terutama jika tugasnya dikerjakan secara kelompok) gak membuang waktu untuk mencari data yang ternyata gak akan kita pergunakan.

Oya, jangan lupa mencantumkan alamat sumber, pengarang, tahun, judul dan penerbit. Biasanya setelah makalah jadi, kepentoknya di sini. Karena udah ilang semua, jadinya ngarang-ngarang gitu deh…

Hari 2

Cari sumber di internet, jurnal, textbook atau ensiklopedi.

Jika yang dicari adalah textbook, berikan waktu yang lebih lama, karena textbook biasanya bahasa Inggris, dan gak bisa copy paste.

Jangan lupa tambahkan gambar-gambar yang berhubungan.

Kalo memang harus pake power point, usahakan cari audiovisual supaya hasilnya keyen…

Hari 4

Rangkum hasil pencarian dan sesuaikan dengan kerangka. Tambahkan gambar dan sebagainya.

Hari 6

Finishing pekerjaan, seperti editing, layouting (kalo disuruh seh…), usahakan sesuai dengan aturan pembuatan karya tulis ilmiah. Gak lucu dong, kita udah bagus-bagus presentasi, eh… makalahnya malah diprotes.

Nah, mbuat slidenya terserah, bisa di awal, barengan atau setelah makalah selese. Kan insya Allah gampang tuh, semua data udah dari makalah. Mungkin kalo mau nambahin data yang unik, boleh dikerjakan sebelumnya.

Strategi Kuliah di Kedokteran

Strategi ABC

A : Baca textbook sebelum kuliah. At least, baca sub-judulnya doang lah. Masa gitu aja nggak bisa? Soalnya, jika kita tau apa yang akan kita pelajari, insya Allah untuk membuat catatan efektif akan lebih mudah. Kan kita tau mana yang penting untuk dicatat dan mana yang cuma basa-basi dosennya aja.

B : Baca handout dan dengerin rekaman setelah kuliah. Untuk menguatkan memori, perlu pengulangan.

C : Baca handout, catatan & soal sewaktu mau ujian. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Jadi, soal-soal kakak kelas adalah gambaran besar yang sangat efektif membantu kamu menemukan point utama dan esensial dari topik tersebut.

Rekam Audio

Dengan harapan dapat mengulang kuliah dosen yang tipe-tipenya non textbook. Seperti dr. Andi Ansharullah, dr. Jack, dll. Cirinya, slidenya tuh singkat banget. Cuma kata-kata kunci aja. Dr. Andi biasanya malah cuma gambar skematis doang, minim keterangan. Tapi biasanya kuliah dosen yang model begini nih yang malah sangat penting. Soalnya, penjelasan mereka biasanya gak bisa kita cari di textbook. Membuatnya unik dan orisinil. Rekaman juga bisa membantu melengkapi catatan kalo dosennya ngomong cepet, kayak dr. Loeki.

Catatan kuliah

Penjelasan perslide yang disampaikan oleh dosen. Biasanya kita kan males tuh, nyatet hal-hal yang udah kita ketahui. Ya tho? Nah, daripada nganggur gak nyatet, mending buat jangkar informasi. Maksudnya, buat hubungan antara informasi yang sudah kita ketahui dengan informasi yang baru aja didapat. Konon katanya, jangkar tuh memudahkan recalling. Pas ntar ditanya sama PPDS di Rumah Sakit, bisa dengan mudah njawabnya. Asyik gak tuh?

Oh ya, rapikan catatan. Okelah, kalo darurat nyatetnya nyampur semua pelajaran dalam satu buku. Tapi jangan lupa disalin lagi! Kalo gak, sama aja bo’ong. Dan kita akan benar-benar sangat kesulitan mencari suatu informasi, apalagi merecallnya. Wong tulisannya aja acak adul.

Mengulang

Seperti kata Aristoteles (kaleee… kalo nggak Einstein, sih), pengulangan adalah induk keterampilan. Konon katanya, suatu informasi akan mencapai puncak ingatan dalam 1 jam, dan akan menurun sampai 20% setelah 24 jam. Karenanya, pengulangan memberikan pesan pada otak bahwa informasi itu adalah penting, dan akan disimpan dengan rapi.

Pengulangan ideal yaitu 1 hari setelah kuliah, kemudian 1 minggu, kemudian 1 bulan, kemudian 6 bulan, dan insya Allah setelah itu, informasi tersebut telah berubah menjadi informasi jangka panjang yang gak perlu mikir lagi untuk merecallnya.

Kunci Jembatan

Suatu lipatan kertas yang berisi keterangan super-ringkas. Soalnya, dia diringkaskan dari catatan, yang padahal catatan kan udah sangat ringkas dari handout dan textbook. Yah, kayak kerpe’an gitu deh…Isinya bisa ringkasan, akronim, bagan, lajur, panah-panah gitu, atau simbol-simbol. Bisa juga disisipkan printed picture yang dikecilin, untuk mempermudah recalling. Nah, karena tujuan utamanya adalah recalling, buat catatannya seringkas mungkin, dan efisien. Ambil materi-materi esensial yang harus diingat, atau materi pengayaan yang susah dihafal. Benda ini akan sangat berguna ketika di Coass nanti, dimana kita bakal butuh banget recall secara cepat. Percaya gak???

Kepribadian dan Spesialisasi

Selasa, 14 Oktober 2008

 

Hari ini, kacau balau sekali. Aya berangkat ke kampus tanpa tuntas menyelesaikan tugas Neurologi, yang sebenarnya mengharapkan Aya untuk mengirim email senin kemarin, dan hardcopy tulisan tangannya hari ini. Tapi, apa mau dikata. Tiba-tiba, Malang Raya mendadak mengalami krisis BBM, terutama bensin! Padahal, bagi masyarakat nglaju seperti Aya yang pulang pergi antar kota tiap hari untuk kuliah (atau bekerja), bensin adalah nafas kehidupan!!! Gimana mau ngider-ngider, bernafas aja enggak… Heuheu… lebai.

Akhirnya, mogoklah sepeda Aya dengan suksesnya akibat kelaparan bensin. Untungnya, sepeda motor Aya mogok deket pertigaan Pendem, mau ke Karangploso. Awalnya sih, Aya rada kecut juga. Ini Batu enggak, Malang kota juga enggak. Tengah-tengah, oi. Nggak bisa milih pulang atau terus ke kampus, lha wong sama jauhnya! Tapi sekali lagi untungnya, Aya mogok dipertigaan Pendem. Kan di sono ada ojekan. Yawes, dengan bermodalkan gaya Sok Kenal-Sok Dekat, Aya minta beliin bensin ke bapak-bapak ojek itu. Maka Happy ending-lah akhir cerita mogok ini…

Cerita berlanjut… Akibat acara mogok tadi, sukses pulalah Aya telat menghadiri kuliah Etika dan Hukum Kedokteran. Aduh, udah gak berani ngitung lagi deh, berapa kali Aya bolong kuliah ditambah yang satu ini. Tapi dalam hati, hepi juga. Alhamdulillah, ya Allah… Kau beri kesempatan Aya buat nggarap Pe-eR Neuro yang terbengkalai. Hiehehe…

Ayapun berangkat ke warnet terdekat. Sampai di sana, sambil nggarap searching physical exam-nya classic migraine dan subdural hematoma, Aya buka websitenya www.mypersonality. info. Yeah, jelek-jelek begini, Aya orang yang sangat tertarik dengan bidang psikologi. Bagi Aya, menyelami jiwa adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Dan tak lama kemudian, Aya keasyikan buka-buka pendalaman kepribadian ala Carl Jung di web itu. Aya mendapati bahwa personality Aya adalah Introvert, Intuitive, Sensing, Judging. INSJ. Yang menyenangkan adalah, pada kolom profesi yang compatible, ada kata doctor di sana. Huhuhu… senangnya. Berarti gak salah dong, waktu SMA dulu Aya ngotot mau ke Kedokteran. Walaupun saat itu nilai Aya  membanggakanpun tidak sama sekali, dan Aya terkenal sebagai Kriminal Sekolah yang kerjaannya telaaat…muluk. Tau gak, waktu guru BK-ku Aya ceritain tentang program Aya masuk ke FK Brawijaya, beliau cuma manggut-manggut. Terus malah menakut-nakuti tentang beratnya saingan kalo ke FKUB, dan menyarankan ke FK ^^^^^ (sensored) yang juauuuhh itu. Katanya, “ Gak papa jauh sedikit. Pokoknya masuk FK, kan?” Heuh, sudahlah… tausah dikenang.

Kembali kepada kepribadian. Kemarennya, Aya dipinjami flashdisk akh ^^^^, dalam rangka menambah telaga ilmu untuk ngisi kajian di adek2 SMA binaan. Dan ternyata tu orang update banget, ya? Dalam flash-nya, Aya nemu sebuah e-book yang berjudul “The Ultimate Guide to Choose Medical Specialty”, ditulis oleh Brian Freeman. Bercerita tentang bagaimana cara seorang dokter umum menentukan pilihan studi Dokter Spesialisnya. Wah, bagi Aya, ini passs buanget. Selama ini, yang menjadi keinginan Aya adalah menjadi dokter spesialis bedah. Karena, mungkin Aya terlalu banyak input informasi yang kurang berimbang kali ya? Aya pernah baca buku Komplikasi karangan Atul Gawande, dan serial yang pernah Aya tonton adalah Team Medical Dragon, dimana tokoh-tokoh utamanya adalah para dokter bedah. Jadi, boleh dikata, impian Aya itu masih kekanakan, karena belum didukung data yang akurat dan lengkap tentang minat dan kemampuan. Hanya satu perspektif saja, yaitu pengen meniru.

Nah, adanya buku ini membuat Aya mengerti akan pentingnya mempersiapkan penentuan pilihan spesialisasi kedokteran. Kenapa penting? Karena tepatnya pilihan spesialisasi akan menjadikan sang dokter lebih bahagia dalam menjalani profesinya, dan menjadi dokter yang lebih baik bagi pasiennya.

10 faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan spesialisasi :

1.       Apakah suka yang generalis (mempelajari ilmu yang luas, ex. Internist, surgery, pediatrician, family practice), spesialis (mempelajari ilmu yang dalam, ex. Obgyn, ophthalmology, otolaryngology) atau yang supportive (membantu generalis dan spesialis, ex. Anastesiologi, pathology, radiology)

2.       Apakah mencintai dasar ilmu yang menjadi fondasi utama spesialisasi tersebut, dan tertarik dengan perubahan informasinya (biokimia, biomolekuler, farmakologi klinik, mikrobiologi klinik)

3.       Apakah cenderung suka berinteraksi dengan pasien yang banyak dan erat (internal medicine, family practice) atau yang banyak namun sambil lalu (surgery, emergency medicine). Yang rela berkotor-kotor (surgery, obgyn) atau yang lebih bersih (psychiatry, ophthalmology). Yang areanya terfokus (urology, orthopaedics), yang intensitas bertemu pasien relatif sedikit (radiology, pathology), dll.

4.       Apakah mempu bertahan menghadapi tipe pasien yang akan ditemui, ex. Dokter Emergensi menghadapi pasien yang seringkali marah dan menuntut perawatan padahal tidak darurat. Dokter anak menghadapi orang tua yang menuntut. Dokter onkologi menghadapi progress perbaikan penyakit mematikan pasien yang sangat sedikit dibandingkan usaha yang sangat agresif.

5.       Pilihlah spesialisasi yang membuat kamu bahagia disana. Tidak peduli apa kata keluarga, kolegadan orang lain tentang pilihan itu. Ingatlah, bahwa setiap spesialisasi dokter memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kerja besar membangun kesehatan. Dan ide bahwa spesialisasi tertentu memiliki prestise dan kehormatan yang lebih dari yang lain hanyalah opini personal.

 

6.       Pertimbangan lifestyle akibat dari resiko profesi yang akan diambil. Dunia kedokteran adalah dunia yang menuntut banyak. Telepon tengah malam yang membutuhkan kelahiran Caesar atau operasi apendiks, berkurangnya otonomi dalam manajemen perawatan, atau meningkatnya laporan dan ancaman penyidangan malpraktik. Setiap spesialisasi memiliki resiko yang khas dan berbeda, dan itu tergantung bagaimana hidup yang diinginkan oleh si calon spesialis.