SENIN, 13 April 2009
Malam kemarin aku begadang nonton TV lagi. Sebenarnya niatnya mau belajar buat UTS yang udah mulai Selasa besok, dan nonton TV-nya Cuma buat selingan biar gak ngantuk. Tapi, malah nggak noleh handout sampe paginya. Yang aku dapat malah Charlie & the Chocolate Factory, Electra sang Gaijin yang melindungi Abby the Treasure, sampai awal cerita Domino sang pemburu bayaran cantik. Bahkan ada yang aku lupa. Terlalu nggak tuh… Pokoknya, aku menonton sekitar 5 potongan film yang berbeda.
Sejujurnya, menonton film adalah kegemaranku. Biasanya, film yang menarik perhatianku adalah tipe fantasi (kayak Harry Potter, Charlie & the Chocolate Factory, Eragon, Spy Kid, Spy Teen?, X-Men), animasi (Barbie’s Story Series, Shrek, Toy Story, The Antz, Tim Burton’s Corpse Bride), film psikologis atau thriller yang gak pake hantu menjijikkan (Gothika, Section 9, Ghost Ship), biografi seseorang atau profesi tertentu (Hannibal Lecter, Team Medical Dragon, Patch Adam), drama remaja dan keluarga (kisah tentang seorang tahanan Nazi yang melindungi fisik dan mental anaknya dari penyiksaan kamp pemusnahan dengan keceriaan, trus Mean Girl, The Sweetest Thing, Legally Blonde, Never Been Kissed, Beethoven) aksi fantasi sampe aksi komedi (Electra si Gaijin yang tadi malam, Jackie Chan films, Martial Law, Beautiful Weapon, Kung Fu Soccer, Kung Fu Mahjong), klasik-etnik-kolosal (The Myth, Curse of the Golden Flower, tapi jijay banyak auratnya, Helen of Troy, Inuyasha the Movie) komedi (Bobo Ho series, ), alien-alienan (The Faculty, Attack from Mars), aksi heroik melawan alam yang berdasarkan fakta ilmiah (The Volcano, Vertical Limit, trus fim yang lupa judulnya, pokoknya bintangnya Pierce Brosnan dan Michelle Pfeiffer paling, tentang upaya survival sebuah keluarga untuk keluar dari bara merapi, ) detektif2an atau aksi misteri (Detective Conan the Movie, James Bond : hiyek, sebenernya gak suka, The Thomas Crown Affair, ), kartun anak-anak (Petualangan Doraemon dan Nobita di Negeri Apa gitu, Crayon Shinchan the Movie, ), dan banyak lagi yang lain, Cuma aja lupa. Bahkan kalau saja ada Dora and Boots the Movie pun mungkin aku doyan.
Tapi aku nggak suka film yang terlalu action tapi gak ada makna mendalamnya, kayak Rambo. Trus film horor yang hantunya terlalu menjijikkan, kayak Zombie, film hewan2 pemangsa dalam ukuran besar kayak Anaconda, Shark, tentang laba2 raksasa lah, kutu raksasa lah, tikus buas lah, sejak kapan Discovery Channel jadi sebegini khayal? Trus film yang terlalu terbuka dalam mengekspos kekerasan, kayak film yang diperankan oleh, aduh lupa, tentang penyelidikan seorang istri terhadap almarhum suaminya yang berujung pada kejahatan pelecehan dan pembunuhan yang dilakukan sang suami selagi hidup pada seorang gadis muda, itu film agak kasar juga.
Wow, kalo dipikir banyak juga ya. Belum lagi yang udah lupa judulnya. Tapi ada hal penting yang seringkali aku lupa. Aku suka asal nonton tanpa menyaring kemanfaatan suatu film. Asal seru dan sesuai dengan selera di atas, hayuk… meski kadang membuat jijay sendiri kayak Curse or Golden Flower. Atau yang terlalu banyak mengekspos kekerasan dan ide pembunuhan kayak Gothika, Section 9, Ghost Ship. Terlalu banyak mengungkap life style bebas kaum Barat, menghalalkan perjudian kayak Kung Fu Mahjong, God of Gambler.
Saking sukanya sama film, aku nggak bisa menahan diri untuk tidak begadang nonton, meski besok mau ada UTS kek, praktikum kek, acara penting apa kek, perjalanan ke mana kek. Seolah aku nggak perduli besok, yang penting sekarang aku senang karena berhasil menonton film yang menarik hatiku. MasyaAllah, kok jadi gini ya? Bukannya ini bibit-bibit memperturutkan hawa nafsu? Astaghfirullah… Dulu malah lebih parah. Aku sampai rela menunda sholat hanya agar tidak ketinggalan sebuah film. Aduh, sepertinya aku harus meruqyah diri sendiri nih. Aku seolah sudah kerasukan film.
Ini juga bagian dari indikator ketidak kedewasaanku, selain hobi telat. Menunjukkan bahwa aku masih belum bisa menguasai diri, yang seharusnya menjadi salah satu ciri kedewasaan selain dapat memahami orang lain, bersikap ngemong dan menjadi contoh. Dewasa bukanlah persoalan waktu. Ia ada dalam dimensi kepribadian. Dimana untuk mencapainya, seseorang perlu mengalami banyak hal yang pahit untuk mendapatkan pelajaran. Tetapi akan lebih baik jika kita belajar dari orang lain untuk mendapatkan ilmu, sebelum kita sendiri yang mengalaminya. Itu yang disebut dengan kebijaksanaan.
Karenanya, Aya… mungkin akan sulit bagimu untuk mencegah diri dari bergadang di tengah malam untuk menonton televisi. Tetapi, kau harus belajar dari orang lain yang mengalami kepahitan akibat keburukan, sebelum hal yang sama terjadi padamu. Be wise. Jadilah bijak. Film yang tidak berguna akan meracuni pikiranmu yang bersih, membuatmu lalai dengan tugas dan kewajiban, membuatmu terlupa dengan tujuan awalmu dan mewarnaimu dengan pemikiran yang menimbulkan lintasan buruk, dan lama-lama mengubah pendirianmu. So, pilih-pilih kalo mau nonton!!