Advokasi Pasien Abses Otak (Part 1)

Bapaknya ukhti Dwi masuk RSP, diduga mengalami stroke penyumbatan dan akan dirujuk ke RSSA untuk CT Scan. Antum agenda kosong? Kalau iya, dimohon menemani ukh Dwi untuk membantunya”

Begitulah kira-kira SMS temanku, yang mau tidak mau membuatku terkejut. Bapaknya Dwi? Kok kayaknya tadinya baik-baik saja? Tapi sudahlah. Segera kuselesaikan urusan presentasi Monev PKM-ku untuk untuk dapat segera menemui mereka di RSP.

Dwi adalah salah satu sahabatku. Kami dan beberapa teman lainnya menjalani peran sebagai aktivis dakwah sekolah. Karena seringnya kami bertemu, kami menjadi akrab. Kami sering bagi berbagai cerita tentang keluarga, cita-cita, kehidupan dan sampai cinta. Hehe…

Sesampainya di RSP sana, aku bertemu juga dengan Nana. Nasi kotak yang kubawa dari Monev tadi kami bancak bersama, sambil membicarakan tentang penyakit bapak Dwi. Sebenarnya ketika aku membaca SMS di atas, aku merasa ragu saja. Apa benar bapak Dwi butuh CT Scan? Apakah itu benar-benar diperlukan? Takutnya, CT Scan itu hanyalah upaya ‘bisnis’ antara dokter dengan bagian CT Scan-nya. Bukan berprasangka, tetapi dosenku dari bidang Radiologi sendiri yang bilang begitu. Kan jadi rada parno tuh…

“CT Scan? Kata dokter emangnya bapak sakit apa Ukh?”

“Denger-denger sih penyumbatan gitu katanya.”

“Emang harus disuruh CT ya?”

“Lha ya itu Ukh. Ana dan ibu kan ngga tau apa-apa to. Sedangkan antum kan jauh lebih tahu dari kami. Makanya, kami berharap agar setidaknya antum mendampingi kami, gitu lho.”
itu saja sudah cukup bagiku untuk menekadkan diri mengadvokasi keluarga sahabatku ini. Meskipun ilmuku sederhana dan pengalamanku seadanya, tetapi aku merasa harus mendampingi keluarga itu. Lagian, lumayan kan dapet ilmu gratisan. Kapan lagi bisa ikut memonitor kesehatan pasien dengan begini leluasa?

“Gejala bapak apa aja?”

“Sakit kepala berat dan tensinya 150/… (lupa).”

“Ada tanda kelemahan tubuh gitu ngga? Kayak jadi ngelimprek, gak bisa jalan, kesemutan, dll? Atau kesadaran yang menurun?”

“Nggak tuh…”

Ha? Cuman Hipertensi tanpa ada tanda defisit neurologis? Gitu doang mau di CT? Gak salah?

“Terus dikasi obat apa aja?”

“Sejenis captopril (penurun tekanan darah), ranitidin sama vitamin B complex.”

Ranitidin? Itu kan buat obat tukak lambung?

“Ukh, CT Scan tu termasuk ga murah lho. Dan setau ana, kalo cuman hipertensi gitu doang mah ga usah CT. kasi aja penurun tekanan darah. Tapi jangan berburuk sangka dulu. Gimana kalau kita tanya aja ke mereka kenapa kok harus di CT Scan. Biar lebih jelas alasannya ”

“Tapi…”

“Halah, ga papa kok, tak temenin.”

**** Prinsip Etika Kedokteran Poin Pertama (RESPECT OF THE AUTONOMY, Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui serta memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya, sehingga perlu di berikan informasi yang cukup) dan Poin Kedua (PRINCIPLE OF VERACITY, Dokter hendaknya mengatakan secara jujur apa yang sebenarnya terjadi, apa yang akan dilakukan serta resiko yang dapat terjadi) ****

Jadilah aku mengantar Dwi ke ruang perawat, karena sore itu sang dokter spesialis sudah tidak di tempat. Berbasa-basi sedikit dengan mas-mas perawatnya, aku mendapat kesan kalau investigasi ini tidak akan sulit.

“Mas, saya kan keluarganya pak Darmanto. Beliau katanya dirujuk ke RSSA untuk di CT Scanya mas? Sakitnya apa to kok pake gituan?”

Aku berusaha sok bodo aja. Dan mereka menyinggung adanya dugaan tumor otak. HAH?!?!? Gak salah? Gak boleh sembarangan lo bilang suspect tumor otak. Ia harus memenuhi beberapa kriteria proses desak ruang, seperti sakit kepala berat, mual-muntah proyektil, papil edema, dan defisit neurologis fokal. Tapi Dwi ngga pernah mengeluhkan itu padaku.

“Memangnya, bapak Man kenapa pak kok bisa diduga begitu? Oh iya, boleh lihat statusnya mas?” Nekat aja. Ternyata dibolehin. Dan saat itu pula aku sadar, adanya hemiparesis kaki kiri, papil edema +1, sakit kepala yang sering dikeluhkan bapak, dan setelah kembali ke kamar bapak, aku mendengar bapak muntah. Aku jadi merinding sendiri.

“Ukh, sepertinya benar deh, bapak ada gejala tumor di otaknya”

“Hah??” Ukhti Dwi pucat pasi.

BERSAMBUNG…