Aku dan Dwi temanku baru saja pulang dari acara walimah salah seorang saudari kami yang bertempat di kompleks perumahan Angkatan Udara Abdurrahman Saleh. Jauhnya jarak, ditambah dengan acara begadang pada malam sebelumnya membuat kami agak disorientasi. Nyaris saja kami berdua tertidur di jalan. Padahal kami dalam keadaan mengendarai motor!! Akhirnya kami memutuskan mampir di Masjid Raden Patah untuk beristirahat.
Tak lama berselang, Bu Diah mengirim SMS delegasi mengisi pengajian ibu-ibu jam 4 sore di desa Gunungsari, Sumberejo, Kota Batu. Santai, masih jam 1, batinku. Kami malah masih sempat jajan bakso bakar dan es campur. Dengan segala keribetan itu, akhirnya aku sampai di rumah Batu pukul 15.30. Santai, paling mereka juga baru datang jam 16.30. Malah jangan-jangan mereka baru lengkap setelah jam 17.00, batinku lagi.
Dengan berbekal keyakinan tersebut, aku shalat lalu bercengrama mesra dengan keluarga, sampai pukul 16.30. Baru setelah itu, aku berangkat ke tempat tujuan. Sebenarnya aku pernah ke sana. Tempat yang cukup jauh jauh jika ditempuh dengan sepeda motor, 20 menit. Apalagi jika berjalan kaki. Sayangnya saat ini aku lupa jika jaraknya lumayan, dan ditambah aku sudah lupa tempatnya. Dengan sedikit cemas, kupercepat laju motorku, dan berharap memori jangka panjangku masih menyisakan ruang untuk denah tempat tersebut. Beruntungnya, firasat menuntunku pada gang menuju panti itu, tanpa harus ada acara nyasar-nyasar. Terima kasih ya Allah…
Ternyata di panti, ibu-ibu itu sudah lengkap. Dan kedatangan ku disambut dengan tatapan agak sebal. “Sudah menunggu lama ya, Bu?” tanyaku. “Iya,” jawab mereka, tanpa sungkan. Lho? Jawaban yang sangat jujur. Wah, berarti aku sudah keterlaluan. Lalu kulihat jam di dinding, dan … MasyaAllah!! Pantesan. Nyaris jam 17.00. Tak kusangka, perjalanan dari rumahku ke tempat ini yang bertetangga desa telah menyita waktu 30 menitan. Mereka telah menunggu mungkin lebih dari 1 jam…
Refleks menusiawiku segera membentuk pertahanan diri. “Aduh, mohon maaf, Bu. Ini tadi saya dari Malang. Maafkan atas keterlambatan saya…”. Alasan seolah syar’i ini membuat wajah setengah bersungut mereka cerah kembali. “Aduh, ndak papa mbak. Mbak kan asalnya jauh…” kata mereka dengan tulus. Astaghfirullah… astaghfirullah…
Ketika kita dinanti, sesungguhnya kita sedang dipercaya untuk berusaha sekuat tenaga untuk sampai secepat mungkin. Akan tetapi kita sering tidak menyadari, bahwa orang yang menanti itu kepanasan dirundung gelisah. Dan melah menganggap bahwa orang lain akan sama tidak disiplinnya dengan kita.
Ibuku pernah menasehatiku, “Jangan sampai kita ditunggu orang lain. Apalagi ketika janjian, ternyata kita belum siap dan terpaksa membuat orang itu menunggu persiapan kita selesai. Asal tahu saja, orang lain menghormati kita dengan cara menepati perjanjian mereka dengan kamu. Masa kamu sendiri tidak bisa menghormati mereka dengan cara tepat waktu, dan membuat mereka menanggung akibat ketidak dewasaanmu?”
KETIKA KITA DINANTI