Omelet Jagung Mie Pedas

Bahan :

Jagung 3 batang, pipil, rebus bijinya selama 3-5 menit

Indomie rasa ayam spesial, 1 bungkus, rebus sebentar, jangan sampai terlalu lunak, tiriskan

Keju cheddar 25 gram, parut

Telur 1 butir

Tepung terigu 100 gram

Bawang merah 3 siung

Bawang putih 3 siung

Bawang merah goreng, 1 sdm

Cabai rawit 4 buah, potong-potong

Cabai bubuk ½ sdt

Air secukupnya

Minyak goreng secukupnya

Tepung bumbu instan

Cara :

  1. Campur biji jagung, indomie rebus, keju cheddar, tepung terigu dan bumbu Indomie. Beri sedikit air agar tidak terlalu kental. Aduk rata.

  2. Cincang atau haluskan bawang merah, bawang putih. Tumis sebentar agar layu. Masukkan bumbu ini ke campuran 1. Aduk rata kembali.

  3. Kukus adonan selama ½ jam. Dinginkan.

  4. Potong-potong, goreng dengan tepung bumbu instan, seperti Kobe, dsb.

  5. Hidangkan dengan sambal Bangkok.

*Behind The Scene*

Pembaca coba deh. Terus bilang sama aku, apa bener ini wujud omelet? Aneh banget soalnya.

Oya, setelah omelet ini jadi, aku menerima beberapa ktirik saran dari para pencicip. Ada yang bilang, mie-nya terlalu blenyek, jadinya bumbunya gak terlalu kerasa. Jadi, pas ngerebus ga usah lama. Kriuk-kriuk aja. Terus ada juga yang bilang, kalo bisa ditambahin jahe bubuk biar ga bau amis. Pake telor soalnya. Menurutku sendiri, tepungnya kebanyakan dan telurnya kesedikiten. Kayak kurang mantep, gitu (warning! Ukuran tepungnya 100 gram di atas belum tentu bener lo ya. Nurut feeling anda aja deh…). Ada lagi, kata pakde kalo bisa jangan terlalu pedes. Soalnya, udah dikasi cabe 4 biji, ditambah cabe rawit bubuk pulak. Yah, ini sih terserah pembaca, mau yang flat-flat aja atau ala cobek kebakaran. Well, last but not least, selamat mencoba!!

Spaghetti Leg aMur GaSheep*

Bahan :
Spaghetti-11 La Fonte, sesuai selera (biasanya sekitar 50-150 gram sesuai besar porsinya)
Saus :
Wortel 1 buah, potong dadu ½ x ½ cm
Jagung 1 buah, pipil atau ambil bijinya
Sosis (ayam / sapi) 1 buah, potong tipis
Daging ayam 50 gram, potong dadu ½ x ½ cm
Bawang merah 4 siung, cincang halus
Bawang putih 3 siung, cincang halus
Tomat hijau ½ buah, potong tipis
Cabai rawit 3 buah, potong tipis
Cabai merah halus 1-2 sendok makan (sesuai selera)
Sambal Bangkok Indofood, 1,5 sdm
Bumbu pecel siap pakai, 1 sdt
Kecap, jika perlu
Tepung maizena, jika perlu
Gula secukupnya
Garam secukupnya
Air, 1 cangkir
Minyak untuk menggorang

Cara Membuat :
1. Rebus spaghetti dalam air mendidih (sebaiknya diberi sedikit garam dan minyak 1 sdm). Angkat apabila spaghetti menjadi berwarna keruh dan diameternya 2x lipat mentahnya. Itu pertanda spaghetti sudak lunak. Tiriskan. Apabila sebelumnya belum ditambahkan, dapat diberi 1 sdm minyak agar tidak lengket satu sama lain.
2. Rebus wortel (1-2 menit) dan jagung (2-3 menit) dengan cepat agar tidak terlalu kehilangan nutrisinya. Tiriskan.
3. Panaskan 2 sdm minyak goreng dalam wajan, masukkan cabai merah halus pertama kali agar aroma lengurnya hilang. Setelah itu, masukkan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, tomat hijau, tumis sampai semua layu. Masukkan Sambal Bangkok Indofood, bumbu pecel siap pakai, garam, gula. Apabila terlalu pedas, dapat ditambahkan kecap atau sesuai selera.
4. Masukkan jagung, wortel, sosis, daging ayam ke dalam wajan, tumis sebentar. Beri air, masak terus hingga kuahnya terserap. Jika ingin lebih kental, dapat ditambahkan tepung maizena yang dilarutkan dengan air dingin. Aduk sebentar, angkat.
5. Tuangkan saus di atas spaghetti rebus. Taburi dengan keju cheddar parut. Siap dihidangkan. (untuk 2-3 porsi)

* Spaghetti Leg aMur GaSheep artinya “Lek Gak Murah Gak Sip (Kalo Nggak Murah Nggak Oke ^_^)”. Maaf ya, ngga ada fotonya… Keburu buas beringas, jadi gak pake poto-potoan. Berawal dari keadaan kelaparan, terus cuma nemu sebungkus spaghetti, dan luru-luru (memulung) bahan2 di kulkas dan sisa makanan semalam. SubhanaLlah, My Brother… You’re my inspiration in cooking. Hihh, ngirriiii… T_T

***********Good Luck***********

BENTOU, La-la-la…

Mulai bulan Juni ini, aku mentekadkan untuk membawa bekal (m-bontot :Jawa, m-Bento : Jepang) buat makan di kampus. Why? Kesehatan dan kebersihan sebenernya bukanlah alasan utama. Kalau alasannya itu, pasti udah sejak dulu-dulu Aya nge-bento. Tapi, sangking aja bulan ini ada dugaan KANKER (Kantong Kering), jadinya nebeng belanjaan deh. Kan kalo ngebontot, mau semahal gimana, uangnya dari dana belanja Mama. Coba kalo jajan, pasti lagi-lagi duit Aya. Huhuy, pinter ngakalin ya(^___^ )? Hush… kok malah bangga.
Sejujurnya, aku jatuh cinta pada ‘ilmu’ nge-bento dari blog para Bento-Mania Moms, yang cante’-cante’, lucu-lucu dan pastinya sehat laah… Setahu Aya, asal budaya Bento ini dari Jepang. Dimana para ibu di sana berusaha menghias bekal makan siang anak-anak mereka agar anak-anak itu doyan makan. Dan kebiasaan itu sudah mulai diadopsi oleh beberapa kalangan penghobi masak atau penyayang anak di Indonesia. Dan mungkin prinsip mereka adalah : Mari kita buat temen anak kita ngiri dengan bontot anak kita. Oww, kalo aku jadi anaknya, seneng banget kalee…
Akhirnya, sudah semingguan ini aku bawa makanan. Dan seperti prinsip utama para BentoMania, BERGIZI is #1, dan MENARIK is #2. Seperti pada menu di bawah ini :

Hehehe… menarik gak? Masih BIASA kali ya… Maklum, PERTAMAX. Di menu itu, ada nasi putih, wortel rebus, brokoli rebus garam, sama tempe goreng Kobe. Di hari lain, kadang ada mie, tumis jagung-wortel-brokoli, sosis bunga, dan sosis teripang. Atau ngambilin sisa-sisa makanan kemaren. Yah, gitu-gitu aja sih. Soalnya, jam kuliahku SELALU jam 7. Padahal, waktu perjalanan dari rumah ke kampus makan waktu sekitar ½ jam. Jadi ya nggak bisa neko-neko. Tar kalo telat disalahin…
Selain, itu, lumayan juga buat Aya untuk latihan belajar masak dan mengurus keluarga. Kan lumayan menyita waktu juga tuh. Tinggal kuat apa enggak komitmennya. Yah, sebagai manusia, Aya juga punya kelemahan, dan sepertinya ini bisa dibuat untuk latihan perbaikan diri. Hidup BENTO!
BENTO, BENTO-BENTO… HU!!! (Nadanya kayak jinggle Minak Jinggo)